MENANAM JABON MENYIMPAN EMAS UNTUK MASA DEPAN

Oleh :

Firmansyah, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Ahli

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan BP2SDMK

 

Sesuai dengan Permenhut P.10/Menhut-II/2011, salah-satu dari 6 (enam) kebijakan prioritas Kementerian Kehutanan saat ini adalah Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) serta Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan. Untuk mendukung kebijakan prioritas tersebut, saat ini banyak dilakukan kegiatan atau gerakan menanam pohon. Selain untuk mencegah kerusakan lingkungan, pohon yang ditanam diupayakan adalah jenis pohon yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat yang melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon tersebut.

Pohon jabon saat ini merupakan salah satu pohon primadona kehutanan namun tak terlalu banyak dikenal oleh masyarakat luas. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan membudidayakan pohon ini. Bukan karena tidak adanya penelitian yang menunjukkan betapa besarnya peluang pengembangannya, akan tetapi akibat lemahnya publikasi dan sosialisasi serta tindak lanjut terhadap hasil penelitian jabon menyebabkan usaha pengembangannya sangat jauh tertinggal dibandingkan jenis pohon lainnya, misalnya pohon jati, sengon, mahoni dan karet. Padahal, keuntungan dari budidaya pohon jabon juga dapat merubah tingkat kesejahteraan masyarakat hanya dalam waktu beberapa tahun saja. Maka dari itu, diperlukan publikasi dan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang jabon, kenapa memilih jabon, karakteristik dan kelebihan jabon dibandingkan dengan kayu keras lainnya, Cara budidaya jabon, nilai ekonomis dan peluang investasi dari pohon jabon.

 SIAPA ITU JABON?

Jabon merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan dan merupakan pohon asli Indonesia yang dapat dijumpai di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh Pulau Sulawesi, NTB dan Papua. Pohon ini sebenarnya dulu di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan eksploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun sehingga menjadikan tanaman ini sulit ditemukan.

Jabon sebenarnya merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan air karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, dahulu jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat bergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa.

Berdasarkan klasifikasinya, Jabon termasuk dari keluarga Rubiaceae (tanaman kopi-kopian) dengan nama latinnya adalah Anthocephalus cadamba. Jabon saat ini menjadi sangat populer dan mulai dilirik oleh sebagian petani dan pelaku usaha kehutanan semenjak bahan baku industri perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, sengon, mahoni, dan lain lain sangat terbatas karena memang umur tebang pohon tersebut yang umumnya relatif lama. Selain itu, adanya wabah penyakit tumor karat yang menyerang tanaman sengon secara masif serta belum ditemukan obatnya juga menjadi salah satu penyebab petani sengon beralih ke tanaman Jabon.

KENAPA MEMILIH JABON?

Jabon merupakan salah satu jenis tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan industri. Jenis tanaman ini dipilih dengan dua jenis alasan. Alasan pertama adalah, kayu jabon  merupakan salah satu jenis kayu yang mempunyai pertumbuhan sangat cepat di dunia yakni 10 cm/tahun dan memiliki kualitas yang baik sehingga, jenis ini kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat produk kayu olahan. Alasan kedua adalah Jabon merupakan jenis tanaman yang bisa dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat sehingga hal ini bisa membantu menggerakkan sektor perekonomian rakyat di sektor riil. Maka dari itu, dengan adanya budidaya Jabon ini secara tidak langsung akan membantu pemerintah dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan hidup serta memelihara keseimbangan ekosistem alam kita.

Lalu muncul pertanyaan, jika memang Jabon memiliki kelebihan daripada jenis tanaman lainnya, mengapa baru sekarang diperkenalkan kepada masyarakat? Dan mengapa tidak dibudidayakan sejak dulu? Salah satu alasannya adalah bahwa penyemaian varietas tanaman Jabon ini tidak mudah. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama sampai kemudian ditemukan varietas Jabon yang pada saat ini banyak dijumpai di pasaran.

Hal ini berbeda dengan tanaman Sengon yang lebih mudah disemaikan oleh semua orang. Namun dengan kemajuan tekhnologi, maka tanaman Jabon kini semakin mudah untuk dibudidayakan. Apalagi jika mengingat dalam penanaman Sengon, para petani kerap dihantui oleh mudahnya tanaman terserang hama penyakit. Itulah mengapa kini banyak petani beralih menanam Jabon yang relatif lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.

KARAKTERISTIK DAN KELEBIHAN  JABON

Banyak sekali kelebihan jabon dibandingkan dengan pohon kayu lain diantaranya adalah :

  1. Daunnya tidak disukai ternak, sehingga tidak perlu khawatir terjadi pencurian daun.
  2. Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self purning) itu akan membuat kayu jabon sangat lurus rata ke atas, tidak ada benjolan dan tidak dihinggapi tumor karat.
  3. Karena jenisnya yang berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan pada industri kayu lapis (plywood), bahan baku meubel dan furniture, serta bahan bangunan non kontruksi. Bahkan industri kayu lapis siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.
  4. Tidak memerlukan perawatan khusus
  5. Dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti; tanah liat, tanah lempung atau pun tanah berbatu serta dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.
  6. Pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan jenis kayu keras lainnya dengan diameter batang dapat tumbuh 10 cm/tahun.
  7. Siap panen di umur 4 tahun ataupun 5 tahun.
  8. Jabon memiliki ekologi tumbuh pada ketinggian 10 – 1300 meter dpl sehingga memiliki cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain.

CARA BUDIDAYA JABON

Proses penanaman bibit pohon Jabon, termasuk hal yang penting untuk diperhatikan. Mengingat dalam proses ini akan menentukan bagaimana tanaman Jabon bisa tumbuh dan berkembang sehingga sesuai harapan. Sebab, untuk mengoptimalkan hasil tanaman bukan sekedar dengan cara menanami lahan dengan bibit sebanyak-banyaknya. Karena jika hal tersebut dilakukan, bisa jadi bukan keuntungan yang diperoleh petani. Namun sebaliknya, bibit yang ditanam akan mati atau tumbuh kurang optimal. Dengan demikian, keuntungan yang diharapkan pun tidak akan tercapai. Cara yang paling baik dalam proses penanaman Jabon adalah dengan sistem optimalisasi dan bukan maksimalisasi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses budidaya Jabon diantaranya adalah :

  1. Penyiapan Lahan

Dalam proses penyiapan lahan ini ada dua hal penting yang harus dilakukan. Yang pertama adalah pembersihan lahan dari unsur pengganggu seperti semak belukar, alang-alang dan berbagai tanaman yang sudah mati. Proses pembersihan bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan zat kimia seperti Sodium Chorate (5-10 gr/m2). Hal kedua adalah pengolahan tanah. Dalam hal ini, tanah perlu dikelola agar mampu memberikan kesuburan bagi tanaman yang akan hidup di tanah tersebut. Pengelolaan ini meliputi proses pemupukan, baik pupuk organik maupun anorganik. Untuk pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, sementara pupuk anorganik yang biasanya dipakai adalah NPK, TSP, KCL dan SP36. Setelah pemupukan, tanah perlu diberikan zat kapur sebanyak 100 gram per lubang. Proses ini biasanya dilakukan pada tanah yang asam, tanah yang belum matang serta tanah yang sedikit unsur hara calsium dan magnesiumnya. Pengolahan tanah terakhir adalah mencampurkan bahan mineral untuk proses ameliorasi. Bahan ini berfngsi sebagai sumber hara mineral, menurunkan nilai KTK serta mampu meningkatkan kejenuhan basa di tanah.

2. Penentuan Jarak Tanam

Jarak tanam memiliki peran penting dalam menentukan kualitas tanaman. Karena jarak tanam ini akan mempengaruhi sebuah tanaman dalam proses memperoleh sinar matahari. Untuk  budidaya Jabon, jarak tanam ideal adalan 3 x 4 meter dengan pola tanam monokultur. Hal ini diperlukan, mengingat ketika Jabon sudah mulai tinggi, maka masing-masing cabang akan tumbuh dan bersinggungan. Bila terlalu rapat, akan berdampak menghalangi sinar matahari yang bisa ditangkap oleh batang Jabon. Selain itu, di bagian akar akan terjadi perebutan zat makanan oleh setiap tanaman. Sehingga tanaman Jabon tidak akan bisa tumbuh secara sempurna dan pertumbuhannya hanya cenderung kurus tinggi saja.

3. Pembuatan Lubang Tanam

Proses pembuatan lubang ini sebaiknya dilakukan seminggu sebelum bibit ditanam. Hal ini dilakukan guna menciptakan pemupukan awal bagi lubang tempat bibit Jabon akan ditanam. Ukuran lubang secara umum berukuran 40 x 40 x 40 cm. Di dalam lubang, ditaburi pupuk kandang dan kompos dengan dicampur pupuk TSP secukupnya. Jumlah pupuk ini sepertiga dari kedalaman lubang. Setelah terisi, pupuk tersebut ditimbun dengan tanah bagian atas lalu diaduk hingga rata. Langkah selanjutnya adalah menutup lubang tersebut dan selanjutnya bekas lubang diberikan penanda yang disebut ajir.

4. Penanaman

Seminggu usai penggalian lubang, barulah proses penanaman bibit Jabon dilakukan. Waktu yang ideal untuk melakukan penanaman Jabon adalah Bulan November – Februari yang bertepatan dengan musim penghujan. Hal ini untuk mencegah bibit Jabon dari masalah kekeringan, mengingat tanaman ini sangat sensitif terhadap kekeringan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan selama proses penanaman ini. Di antaranya adalah :

  • Gali kembali tanah yang sudah diisi pupuk sebelumnya.
  • Siapkan bibit jabon dengan cara melepasnya dari kantung atau poly bag. Pada proses ini harus dilakukan secara hati-hati guna menghindari rusaknya akar.
  • Masukkan bibit ke dalam lubang dengan hati-hati dan tegak lurus.
  • Timbun sekeliling bibit dengan tanah bekas galian.

5. Pemeliharaan Jabon

Setiap 6 bulan sekali tanaman jabon di pupuk dengan urea 50 gram/tanaman. Setelah tanaman jabon berumur 3 tahun, dosis ditingkatkan menjadi 80 gram/tanaman.  Selain itu, penyiangan terhadap gulma juga perlu dilakukan sebanyak 3 – 4 kali setahun. Sedangkan penjarangan perlu dilakukan jika tajuk sudah bersentuhan secara rapat

NILAI EKONOMI DAN PELUANG INVESTASI

Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4 – 5 tahun mendatang, dengan jarak tanam katakanlah 3 X 4 m2 diperoleh dari penjualan 833 pohon berumur 4 – 5 tahun dengan hasil kayu sebanyak 800 – 1.000 m3 per ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp. 1,2-juta per m3. Dengan harga jual Rp. 1,2-juta per m3 dan produksi katakanlah 800 m3, maka omzet dari penanaman jabon bisa mencapai Rp 960-juta per ha. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp. 716.000; umur 5 tahun, Rp. 837.000. Andai harga jabon tak terkorek naik alias tetap sekitar Rp. 716.000 per m3, maka omzet dari budidaya jabon selama 5 tahun “hanya” Rp. 572.800.000. Biaya penanaman dan pemupukan selama 5 tahun diperkirakan Rp. 30.000 per batang, sehingga kalau kita lihat dari asumsi ini maka tanam Jabon sangatlah menjanjikan baik dari segi keuntungan maupun waktu yang tidak terlalu panjang dalam berinvestasi.

Oleh karena itu,  menanaman pohon jabon bagaikan menanam batangan emas diladang kita sendiri, sebab kebutuhan kayu akan terus meningkat, dan saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat terus, seiring dengan tingkat kebutuhan dan permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan persediaan kayu semakin lama semakin terbatas.

PENUTUP

                Berdasarkan data yang ada diatas, maka nilai jual dari jabon yang cukup tinggi ini harus dapat digunakan oleh Pemerintah untuk  mendorong masyarakat agar mau menanam dan atau membudidayakannya sehingga secara tidak langsung dapat  meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, dengan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dari budidaya jabon ini diharapkan kedepannya dapat  mengurangi tekanan masyarakat terhadap sumber hutan dalam bentuk illegal logging, dll.

Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari semua pihak untuk mensukseskan dan mensosialisasikan budidaya dan pengembangan usaha dari tanaman jabon ini. Terakhir saya tuliskan sebuah pantun pendek, “Jala-Jalan Ke Kalimantan, Jangan Lupa Membeli Abon…Kalau Saudara Ingin Menjadi Seorang Jutawan, Jangan Lupa Tanam dan Peliharalah Pohon Jabon”. Salam Penyuluh Kehutanan!!!Gambar

Iklan

Tentang firmansyahbetawi

Penyuluh Kehutanan Ahli pada Pusat Penyuluhan Kehutanan Kementerian Kehutanan Anak betawi Asli keturunan Arab
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

8 Balasan ke MENANAM JABON MENYIMPAN EMAS UNTUK MASA DEPAN

  1. Rochman Garoetsz berkata:

    1 pohon bibit pohon jabon berapa?

    • firmansyahbetawi berkata:

      Bibit usia 3-5 bulan yg siap ditanam dilapangan harganya kira2 10.000/bibit..ini info yg saya dapatkan tahun 2011 akhir pa..gk tw kalau sekarang naik atw tidak..

    • firmansyahbetawi berkata:

      Mf pa update informasi dari teman saya yang jual bibit jabon..karena sudah banyak dipasaran jadi harganya murah…Kl jabon putih Rp. 800-1200/bibit..kalau jabon merah yang punya kualitas lebih bagus dua ribuan pa (2000/bibit)…

  2. yudie berkata:

    mantap infonya..di tunggu post budidaya tanaman selanjutnya bos.
    trmksh

    • firmansyahbetawi berkata:

      Untuk sementara sy sedang sekolah lagi pa,,Ngambil master penyuluhan.Jd 2 tahun ini pending dulu soalnya sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan penelitian..Mdh2n Desember 2014 ini sy lulus..Aamiin..Insya Allah kl ada tulisan sy nanti akan sy posting lagi demi membagi ilmu bersama…

  3. Rahmat berkata:

    menanam jabon menjadi investasi yang menarik dan profit bisa dibilang bagus dalam beberapa tahun selanjutnya, harus dilirik nih sektor ini, kebanyakan orang tiak menyadarinya

  4. roberto berkata:

    apa perbedaan jenis bibit jabon merah dengan yang biasa?

  5. roberto berkata:

    setelah saya melihat banyaknya artikel artikel yg beredar ada yg mengatakan jabon siap panen berkisar 6 – 8 tahun, sedangkan artikel di atas mengatakan bahwa jabon siap panen usia 4 – 5 tahun. manakah sebenarnya usia panen yg benar? dan apabila 4 -5 tahun .bagaimana cara tepat dan benar dalam merawatnya dalam jangka wktu tersebut?
    mohon bantuannya terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s