Penerima Penghargaan Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (PKA) Wana Lestari Tahun 2011

Firmansyah, S.Hut

Calon Penyuluh Kehutanan Ahli di Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan

Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM kehutanan (BP2SDMK)

 

Pada saat ini kebijakan Kementerian Kehutanan lebih diarahkan kepada upaya nyata untuk rehabilitasi dan konservasi sumberdaya hutan dan ekosistemnya. Untuk mensukseskan kebijakan tersebut, diperlukan dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak terutama dari masyarakat luas. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam rehabilitasi hutan dan konservasi sumber daya alam antara lain dengan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada masyarakat yang berprestasi dalam kegiatan pembangunan kehutanan tersebut melalui penyelenggaraan Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (PKA) Wana Lestari yang sudah dilaksanakan dari sejak tahun 2001 oleh Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan yang sekarang berubah menjadi Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kehutanan (BP2SDMK). Dasar Pelaksanaan Lomba PKA Wana Lestari Tahun 2011 ini sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.25/Menhut-II/2011.

 Prinsip – Prinsip Pelaksanaan dan Kategori Lomba PKA Wana Lestari 2011

 Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (PKA) “Wana Lestari” dilaksanakan secara sederhana, berupa penghargaan untuk memacu prestasi baik aparat pemerintah maupun masyarakat dalam upaya rehabilitasi serta pelestarian/konservasi sumberdaya alam. Point yang dinilai dalam lomba adalah keberhasilan peserta lomba dalam bidang, yaitu (1) Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), (2) Konservasi Sumberdaya Alam, dan (3) Pemberdayaan masyarakat didalam maupun sekitar hutan. Untuk Penghargaan tingkat nasional akan diberikan kepada terbaik 1 s/d 3 untuk setiap kategori dan harapan. Sedangkan untuk kategori lomba sesuai dengan Instansi Penangung Jawab lomba dikelompokkan pada 3 kelompok yaitu Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan,  Direktorat Jenderal PHKA dan Perum Perhutani. Dibawah ini disajikan secara lengkap kategori lomba sesuai dengan Instansi Penanggung jawabnya.

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan ( 6 Kategori)

Dirjen PHKA ( 4 Kategori)

Perum Perhutani ( 5 Kategori)

  1. Penyuluh Kehutanan (PK)
    1. Kader Konservasi Alam (KKA)
 

1.  BKPH Perum Perhutani

  1. Kelompok Tani Hutan/ Penghijauan (KTH/P)
  2. Kelompok Pecinta Alam (KPA)
 

2.  RPH Perum Perhutani

  1. Desa Peduli Kehutanan

3.  Polisi Kehutanan (POLHUT)

3.  Mandor Pendamping PHBM Perum Perhutani

  1. Kecil Menanam Dewasa  Memanen (KMDM)

4.  Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

4.  Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Perum Perhutani

  1. Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM)

 

5.  Mandor Tanam Perhutani

  1. Kontes Pohon (Pohon Sengon dan Gmelina)

 

 

Pemenang Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2011 tingkat Provinsi akan di undang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan TEMU KARYA/SARASEHAN PEMENANG LOMBA PENGHIJAUAN DAN KONSERVASI ALAM TAHUN 2011, dengan rangkaian acara :

  • Mengikuti Sidang Paripurna DPR di Gedung DPR
  • Mengikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI ke-66 di Istana Negara
  • Temu Wicara dengan Menteri Kehutanan RI dan Penyerahan Penghargaan Lomba PKA 2011
  • Ramah Tamah para teladan dengan Presiden RI
  • Karyawisata

Mekanisme Lomba dan Tata Waktu Penilaian Lomba

Penilaian lomba dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kabupaten/kota, lalu ke provinsi dan selanjutnya tingkat nasional. Penilaian penghijauan dan konservasi alam tingkat kabupaten/kota diawali dengan pembentukan Tim Penilai Kabupaten/Kota dengan Keputusan Bupati/Walikota yang terdiri dari unsur-unsur diantaranya ialah Dinas Kehutanan Kabupaten, UPT Kehutanan, Badan Pelaksana Penyuluhan (Bapeluh), LSM setempat atau Instansi yang menangani bidang kehutanan.

Tim Penilai Kabupaten/Kota melakukan penilaian dan menetapkan pemenangnya dengan Surat Keputusan Bupati/Walikota. Pemenang lomba penghijauan dan konservasi alam tingkat kabupaten/kota secara berjenjang diusulkan oleh Dinas Kehutanan kabupaten/kota melalui koordinasi dengan Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) kepada Kepala Dinas Kehutanan Provinsi untuk diikutkan pada lomba penghijauan dan konservasi alam tingkat provinsi. Atas dasar usulan Kabupaten/Kota dilakukan penilaian oleh Tim Penilai Provinsi untuk masing-masing kategori lomba dan pemenangnya ditetapkan sebagai pemenang pertama tingkat provinsi dengan Surat Keputusan Gubernur provinsi setempat. Pemenang pertama tingkat provinsi diusulkan sebagai peserta lomba tingkat nasional.

Selanjutnya, dibentuklah Tim Penilai Pusat Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari tingkat nasional yang  disahkan melalui Surat Keputusan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan, yang terdiri dari unsur-unsur Eselon I Kementerian Kehutanan terkait. Berdasarkan usulan pemenang tingkat provinsi, selanjutnya akan dilakukan klarifikasi data administrasi dan lapangan ke daerah oleh Tim Penilai Pusat untuk bahan penetapan penghargaan tingkat nasional yang dilakukan oleh Tim Pakar yang ditetapkan oleh Menteri Kehutanan. Kemudian, hasil penetapan Tim Pakar diteruskan untuk ditetapkan menjadi Terbaik Tingkat Nasional oleh Menteri Kehutanan. Adapun aspek-aspek yang dinilai untuk setiap kategori lomba dan persyaratan peserta lomba berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.25/Menhut-II/2011.

Untuk proses penilaian dan penetapan hasil pemenang lomba tingkat kabupaten/kota dapat dilaksanakan mulai bulan April sampai dengan minggu II bulan Mei 2011. Sedangkan proses penilaian dan penetapan hasil pemenang lomba tingkat provinsi dapat dilaksanakan mulai minggu III bulan Mei sampai dengan minggu II Juni 2011. Selanjutnya, proses penilaian dan penetapan hasil pemenang lomba tingkat nasional dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan minggu Ke- II Juli 2011

 

 

Persyaratan Peserta Lomba PKA Wana Lestari 2011

Persyaratan peserta lomba terbagi menjadi dua yaitu persyaratan khusus dan persyaratan umum. Persyaratan khusus berlaku untuk per kategori lomba saja sedangkan persyaratan umum berlaku untuk semua jenis kategori lomba. Akan tetapi, secara umum persyaratan lomba penghijauan dan konservasi alam untuk kategori lomba yang menjadi tanggung jawab Badan Penyuluhan Kehutanan dan Pengembangan SDM Kehutanan dan Direktorat jenderal PHKA adalah :

  1. Belum  pernah menjadi pemenang pertama lomba penghijauan dan konservasi alam tingkat provinsi dalam 3 (tiga) tahun terakhir, kecuali kategori lomba yang berbeda;
  2. Telah melakukan kegiatan dalam bidang rehabilitasi lahan/hutan serta konservasi sumberdaya alam sekurang-kurangnya 3 tahun dan terdapat aktifitas fisik di lapangan;
  3. Kegiatan tidak berada pada kawasan hutan atau hak guna usaha/HGU;

Persyaratan lomba penghijauan dan konservasi alam untuk kategori lomba yang menjadi tanggung jawab Perum Perhutani adalah :

  1. Khusus untuk Perum Perhutani yang dinilai adalah kesatuannya bukan petugas, kecuali mandor tanam dan mandor pendamping;
  2. Belum  pernah menjadi pemenang pertama lomba penghijauan dan konservasi alam tingkat provinsi dalam 3 (tiga) tahun terakhir, kecuali kategori lomba yang berbeda;
  3. Telah melakukan kegiatan dalam bidang rehabilitasi lahan/hutan serta konservasi sumberdaya alam sekurang-kurangnya 3 tahun dan terdapat aktifitas fisik, sosial dan ekonomi di lapangan;

 

Peserta Lomba

Dari total 33 provinsi di seluruh indonesia, sebanyak 32 provinsi ikut ambil bagian dalam Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2011. Satu-satunya provinsi yang tidak ikut ambil bagian dalam lomba di tahun ini adalah provinsi Jambi. Hal ini disebabkan karena provinsi Jambi sudah sangat terlambat mengusulkan nama peserta lomba kepada Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan Cq. Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan dimana sebelumnya Pusat Pengembangan Penyuluhan telah mengirimkan surat pemberitahuan batas akhir pengiriman nama peserta lomba yakni Minggu Ke-II Bulan Juli 2011. Dibawah ini jumlah peserta lomba penghijauan dan konservasi alam wana lestari per kategori dari 32 provinsi yang diusulkan ke Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Kehutanan (BP2SDMK) Cq. Pusat Pengembangan Penyuluhan, Direktorat Jenderal PHKA dan Perum Perhutani.

Tabel 1. Jumlah peserta lomba per kategori yang diusulkan ke Badan P2SDMK Cq. Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan

No

KATEGORI LOMBA

 JUMLAH PESERTA

I

PUSAT PENGEMBANGAN PENYULUHAN KEHUTANAN

 

1

Penyuluh Kehutanan

27 orang

2

Kelompok Tani Hutan/ Penghijauan (KTH/P)

28 orang

3

Desa/Kelurahan Peduli Kehutanan

25 orang

4

Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM)

25 orang

5

Kecil Menanam Dewasa  Memanen (KMDM)

17 orang

6

Kontes Pohon Sengon

18 orang

7

Kontes Pohon Gmelina

12 orang

 

Total

152 orang

 

 

 

Tabel 2. Jumlah peserta lomba per kategori yang diusulkan ke Dirjen PHKA dan Perum Perhutani

No

KATEGORI LOMBA

JUMLAH PESERTA

II

PHKA

 

1

Kader Konservasi Alam (KKA)

24 orang

2

Kelompok Pecinta Alam (KPA)

23 orang

3

Polisi Kehutanan (POLHUT)

20 orang

4

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

15 orang

 

Total

82 orang

III

PERUM PERHUTANI

 

1

BKPH (Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan)

3 orang

2

RPH (Resort Pemangkuan Hutan)

3 orang

3

Mandor Pendamping PHBM

3 orang

4

Mandor Tanam

3 orang

5

LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan)

3 orang

 

Total

15 orang

 

Total I,II,II

249 orang

 

 

 

Tabel 3. Provinsi atau Instansi Pemenang Lomba PKA Wana Lestari Tahun 2011

No

Kategori Lomba

Terbaik I

Terbaik II

Terbaik III

Harapan I

Harapan II

Harapan III

1

Penyuluh Kehutanan

Jawa Tengah

Sulawesi Selatan

Jawa Barat

DI.Yogyakarta

Jawa Timur

Bali

2

Kelompok Tani Hutan/ Penghijauan (KTH/P)

DI.Yogyakarta

Jawa Barat

Jawa Timur

Lampung

Kalimantan Timur

Sulawesi Selatan

3

Desa/Kelurahan Peduli Kehutanan

Jawa Tengah

DI Yogyakarta

Bali

Sulawesi Selatan

Sumatera Barat

DKI Jakarta

4

Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM)

Jawa Barat

DI Yogyakarta

Bali

Sulawesi Selatan

Jawa Tengah

Jawa Timur

5

Kecil Menanam Dewasa  Memanen (KMDM)

Jawa Tengah

DI Yogyakarta

Bali

Sulawesi Selatan

Jawa Barat

Jawa Timur

6

Kontes Pohon Sengon

Jawa Barat

Sulawesi Selatan

Jawa Tengah

Bali

DI Yogyakarta

Lampung

7

Kontes Pohon Gmelina

Sulawesi Selatan

Sulawesi Utara

Jawa Barat

Bali

Jawa Tengah

Maluku Utara

8

Kader Konservasi Alam (KKA)

Jawa Tengah

Sumatera Utara

Sulawesi Selatan

Kalimantan Timur

Bangka Belitung

Lampung

9

Kelompok Pecinta Alam (KPA)

Jawa Tengah

Bali

DI Yogyakarta

Sumatera Selatan

NTB

Bengkulu

10

Polisi Kehutanan (POLHUT)

BTN.Karimun Jawa

Balai KSDA Sulawesi Tengah

BTN Kerinci Seblat

-

-

-

11

Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

BTN.Ujung Kulon

Balai Besar KSDA Sumatera Utara

BTN Karimun Jawa

 

 

 

-

-

-

12

BKPH (Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan)

BKPH KEBUMEN, Jawa tengah

BKPH LAWANG TIMUR, Jawa Timur

 

BKPH PANGKALAN, Jawa Barat dan Banten

 

-

-

-

13

RPH (Resort Pemangkuan Hutan)

RPH INDRAJAYA, Jawa Tengah

RPH SEMPOL, Jawa Timur

 

RPH CIBINGBIN, Jawa Barat dan Banten

 

-

-

-

14

Mandor Pendamping PHBM

Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten

Perum Perhutani

Unit I Jawa Tengah

Perum Perhutani

Unit II Jawa Timur

 

-

-

-

15

Mandor Tanam

Perum Perhutani Unit II Jawa Timur

Perum Perhutani

Unit III Jawa Barat dan Banten

Perum Perhutani

Unit I Jawa Tengah

 

-

-

-

16

LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan)

LMDH WONO LESTARI, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur

LMDH RIMBA MULYA

Perum Perhutani

Unit I Jawa Tengah

 

LMDH SEMPUR, Perum Perhutani

Unit III Jawa Barat dan Banten

 

-

-

-

 

Penutup

Berdasarkan hasil lomba diatas, maka dapat diketahui bahwa Provinsi Jawa Tengah keluar sebagai juara umum Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2011. Hal ini berarti, sudah 2 tahun berturut-turut Provinsi Jawa Tengah keluar sebagai juara umum dimana tahun 2010 Provinsi Jawa Tengah juga menerima penghargaan sebagai juara umum Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tahun 2010. Hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu contoh daerah yang concern serta peduli terhadap pembangunan kehutanan baik itu Pemerintah Provinsi maupun masyarakatnya. Selain itu pula, yang tidak kalah pentingnya adalah dengan diadakannya lomba ini setiap tahun oleh Kementerian kehutanan, diharapkan agar seluruh provinsi di Indonesia dapat lebih termotivasi dan tergerak dalam membangun dunia kehutanan yang lebih baik lagi khususnya didaerah atau wilayah masing-masing.

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MENANAM JABON…MENYIMPAN EMAS UNTUK MASA DEPAN

Oleh :

Firmansyah, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Ahli

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan BP2SDMK

 

Sesuai dengan Permenhut P.10/Menhut-II/2011, salah-satu dari 6 (enam) kebijakan prioritas Kementerian Kehutanan saat ini adalah Rehabilitasi Hutan dan Peningkatan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) serta Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan. Untuk mendukung kebijakan prioritas tersebut, saat ini banyak dilakukan kegiatan atau gerakan menanam pohon. Selain untuk mencegah kerusakan lingkungan, pohon yang ditanam diupayakan adalah jenis pohon yang memiliki manfaat serta nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat yang melakukan penanaman dan pemeliharaan pohon tersebut.

Pohon jabon saat ini merupakan salah satu pohon primadona kehutanan namun tak terlalu banyak dikenal oleh masyarakat luas. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah mengembangkan dan membudidayakan pohon ini. Bukan karena tidak adanya penelitian yang menunjukkan betapa besarnya peluang pengembangannya, akan tetapi akibat lemahnya publikasi dan sosialisasi serta tindak lanjut terhadap hasil penelitian jabon menyebabkan usaha pengembangannya sangat jauh tertinggal dibandingkan jenis pohon lainnya, misalnya pohon jati, sengon, mahoni dan karet. Padahal, keuntungan dari budidaya pohon jabon juga dapat merubah tingkat kesejahteraan masyarakat hanya dalam waktu beberapa tahun saja. Maka dari itu, diperlukan publikasi dan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang jabon, kenapa memilih jabon, karakteristik dan kelebihan jabon dibandingkan dengan kayu keras lainnya, Cara budidaya jabon, nilai ekonomis dan peluang investasi dari pohon jabon.

.

 SIAPA ITU JABON?

                Jabon merupakan tanaman kayu yang sebenarnya tumbuh liar di hutan dan merupakan pohon asli Indonesia yang dapat dijumpai di Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, seluruh Pulau Sulawesi, NTB dan Papua. Pohon ini sebenarnya dulu di tahun 1970-an sangat terkenal namun karena perkembangan eksploitasi hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi ladang atau kebun sehingga menjadikan tanaman ini sulit ditemukan.

                Jabon sebenarnya merupakan tanaman yang dapat menjadi konservasi bagi tanah dan air karena sifatnya yang memiliki akar serabut dan banyak sekali menyerap air. Sebagai tanaman hutan, dahulu jabon jarang sekali dibudidayakan karena karakteristik tanamannya membuat budidaya jabon menjadi unik dan sangat bergantung pada alam sehingga tidak dapat direkayasa.

                Berdasarkan klasifikasinya, Jabon termasuk dari keluarga Rubiaceae (tanaman kopi-kopian) dengan nama latinnya adalah Anthocephalus cadamba. Jabon saat ini menjadi sangat populer dan mulai dilirik oleh sebagian petani dan pelaku usaha kehutanan semenjak bahan baku industri perkayuan memiliki keterbatasan sumber daya sehingga memerlukan alternatif bahan baku. Ketersediaan bahan baku industri perkayuan seperti jati, sengon, mahoni, dan lain lain sangat terbatas karena memang umur tebang pohon tersebut yang umumnya relatif lama. Selain itu, adanya wabah penyakit tumor karat yang menyerang tanaman sengon secara masif serta belum ditemukan obatnya juga menjadi salah satu penyebab petani sengon beralih ke tanaman Jabon.

KENAPA MEMILIH JABON?

                Jabon merupakan salah satu jenis tanaman yang dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan industri. Jenis tanaman ini dipilih dengan dua jenis alasan. Alasan pertama adalah, kayu jabon  merupakan salah satu jenis kayu yang mempunyai pertumbuhan sangat cepat di dunia yakni 10 cm/tahun dan memiliki kualitas yang baik sehingga, jenis ini kerap dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat produk kayu olahan. Alasan kedua adalah Jabon merupakan jenis tanaman yang bisa dibudidayakan secara mandiri oleh masyarakat sehingga hal ini bisa membantu menggerakkan sektor perekonomian rakyat di sektor riil. Maka dari itu, dengan adanya budidaya Jabon ini secara tidak langsung akan membantu pemerintah dalam mengatasi masalah kerusakan lingkungan hidup serta memelihara keseimbangan ekosistem alam kita.

                Lalu muncul pertanyaan, jika memang Jabon memiliki kelebihan daripada jenis tanaman lainnya, mengapa baru sekarang diperkenalkan kepada masyarakat? Dan mengapa tidak dibudidayakan sejak dulu? Salah satu alasannya adalah bahwa penyemaian varietas tanaman Jabon ini tidak mudah. Sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama sampai kemudian ditemukan varietas Jabon yang pada saat ini banyak dijumpai di pasaran.

                Hal ini berbeda dengan tanaman Sengon yang lebih mudah disemaikan oleh semua orang. Namun dengan kemajuan tekhnologi, maka tanaman Jabon kini semakin mudah untuk dibudidayakan. Apalagi jika mengingat dalam penanaman Sengon, para petani kerap dihantui oleh mudahnya tanaman terserang hama penyakit. Itulah mengapa kini banyak petani beralih menanam Jabon yang relatif lebih tahan terhadap serangan hama penyakit.

KARAKTERISTIK DAN KELEBIHAN  JABON

                Banyak sekali kelebihan jabon dibandingkan dengan pohon kayu lain diantaranya ialah:

  1. Daunnya tidak disukai ternak, sehingga tidak perlu khawatir terjadi pencurian daun.
  2. Tidak memerlukan pemangkasan karena pada masa pertumbuhan cabang akan rontok sendiri (self purning) itu akan membuat kayu jabon sangat lurus rata ke atas, tidak ada benjolan dan tidak dihinggapi tumor karat.
  3. Karena jenisnya yang berwarna putih agak kekuningan tanpa terlihat seratnya, maka kayu jabon sangat dibutuhkan pada industri kayu lapis (plywood), bahan baku meubel dan furniture, serta bahan bangunan non kontruksi. Bahkan industri kayu lapis siap untuk membeli setiap saat dalam jumlah yang tidak terbatas.
  4. Tidak memerlukan perawatan khusus
  5. Dapat tumbuh di berbagai jenis tanah seperti; tanah liat, tanah lempung atau pun tanah berbatu serta dapat tumbuh pada pH tanah antara 4,5 sampai 7,5.
  6. Pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan jenis kayu keras lainnya dengan diameter batang dapat tumbuh 10 cm/tahun.
  7. Siap panen di umur 4 tahun ataupun 5 tahun.
  8. Jabon memiliki ekologi tumbuh pada ketinggian 10 – 1300 meter dpl sehingga memiliki cakupan kesesuaian tanam yang lebih luas dibanding tanaman kayu yang lain.

CARA BUDIDAYA JABON

                Proses penanaman bibit pohon Jabon, termasuk hal yang penting untuk diperhatikan. Mengingat dalam proses ini akan menentukan bagaimana tanaman Jabon bisa tumbuh dan berkembang sehingga sesuai harapan. Sebab, untuk mengoptimalkan hasil tanaman bukan sekedar dengan cara menanami lahan dengan bibit sebanyak-banyaknya. Karena jika hal tersebut dilakukan, bisa jadi bukan keuntungan yang diperoleh petani. Namun sebaliknya, bibit yang ditanam akan mati atau tumbuh kurang optimal. Dengan demikian, keuntungan yang diharapkan pun tidak akan tercapai. Cara yang paling baik dalam proses penanaman Jabon adalah dengan sistem optimalisasi dan bukan maksimalisasi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam proses budidaya Jabon diantaranya adalah :

  1. Penyiapan Lahan

Dalam proses penyiapan lahan ini ada dua hal penting yang harus dilakukan. Yang pertama adalah pembersihan lahan dari unsur pengganggu seperti semak belukar, alang-alang dan berbagai tanaman yang sudah mati. Proses pembersihan bisa dilakukan dengan cara manual atau menggunakan zat kimia seperti Sodium Chorate (5-10 gr/m2). Hal kedua adalah pengolahan tanah. Dalam hal ini, tanah perlu dikelola agar mampu memberikan kesuburan bagi tanaman yang akan hidup di tanah tersebut. Pengelolaan ini meliputi proses pemupukan, baik pupuk organik maupun anorganik. Untuk pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, sementara pupuk anorganik yang biasanya dipakai adalah NPK, TSP, KCL dan SP36. Setelah pemupukan, tanah perlu diberikan zat kapur sebanyak 100 gram per lubang. Proses ini biasanya dilakukan pada tanah yang asam, tanah yang belum matang serta tanah yang sedikit unsur hara calsium dan magnesiumnya. Pengolahan tanah terakhir adalah mencampurkan bahan mineral untuk proses ameliorasi. Bahan ini berfngsi sebagai sumber hara mineral, menurunkan nilai KTK serta mampu meningkatkan kejenuhan basa di tanah.

2. Penentuan Jarak Tanam

Jarak tanam memiliki peran penting dalam menentukan kualitas tanaman. Karena jarak tanam ini akan mempengaruhi sebuah tanaman dalam proses memperoleh sinar matahari. Untuk  budidaya Jabon, jarak tanam ideal adalan 3 x 4 meter dengan pola tanam monokultur. Hal ini diperlukan, mengingat ketika Jabon sudah mulai tinggi, maka masing-masing cabang akan tumbuh dan bersinggungan. Bila terlalu rapat, akan berdampak menghalangi sinar matahari yang bisa ditangkap oleh batang Jabon. Selain itu, di bagian akar akan terjadi perebutan zat makanan oleh setiap tanaman. Sehingga tanaman Jabon tidak akan bisa tumbuh secara sempurna dan pertumbuhannya hanya cenderung kurus tinggi saja.

3. Pembuatan Lubang Tanam

Proses pembuatan lubang ini sebaiknya dilakukan seminggu sebelum bibit ditanam. Hal ini dilakukan guna menciptakan pemupukan awal bagi lubang tempat bibit Jabon akan ditanam. Ukuran lubang secara umum berukuran 40 x 40 x 40 cm. Di dalam lubang, ditaburi pupuk kandang dan kompos dengan dicampur pupuk TSP secukupnya. Jumlah pupuk ini sepertiga dari kedalaman lubang. Setelah terisi, pupuk tersebut ditimbun dengan tanah bagian atas lalu diaduk hingga rata. Langkah selanjutnya adalah menutup lubang tersebut dan selanjutnya bekas lubang diberikan penanda yang disebut ajir.

4. Penanaman

Seminggu usai penggalian lubang, barulah proses penanaman bibit Jabon dilakukan. Waktu yang ideal untuk melakukan penanaman Jabon adalah Bulan November – Februari yang bertepatan dengan musim penghujan. Hal ini untuk mencegah bibit Jabon dari masalah kekeringan, mengingat tanaman ini sangat sensitif terhadap kekeringan. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan selama proses penanaman ini. Di antaranya adalah :

  • Gali kembali tanah yang sudah diisi pupuk sebelumnya.
  • Siapkan bibit jabon dengan cara melepasnya dari kantung atau poly bag. Pada proses ini harus dilakukan secara hati-hati guna menghindari rusaknya akar.
  • Masukkan bibit ke dalam lubang dengan hati-hati dan tegak lurus.
  • Timbun sekeliling bibit dengan tanah bekas galian.
  1. Pemeliharaan Tanaman Jabon

Setiap 6 bulan sekali tanaman jabon di pupuk dengan urea 50 gram/tanaman. Setelah tanaman jabon berumur 3 tahun, dosis ditingkatkan menjadi 80 gram/tanaman.  Selain itu, penyiangan terhadap gulma juga perlu dilakukan sebanyak 3 – 4 kali setahun. Sedangkan penjarangan perlu dilakukan jika tajuk sudah bersentuhan secara rapat

NILAI EKONOMI DAN PELUANG INVESTASI

                Budidaya tanaman jabon akan memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan apabila dikerjakan secara serius dan benar. Perkiraan dalam 4 – 5 tahun mendatang, dengan jarak tanam katakanlah 3 X 4 m2 diperoleh dari penjualan 833 pohon berumur 4 – 5 tahun dengan hasil kayu sebanyak 800 – 1.000 m3 per ha. Prediksi harga jabon pada 5 tahun mendatang Rp. 1,2-juta per m3. Dengan harga jual Rp. 1,2-juta per m3 dan produksi katakanlah 800 m3, maka omzet dari penanaman jabon bisa mencapai Rp 960-juta per ha. Saat ini harga per m3 jabon berumur 4 tahun mencapai Rp. 716.000; umur 5 tahun, Rp. 837.000. Andai harga jabon tak terkorek naik alias tetap sekitar Rp. 716.000 per m3, maka omzet dari budidaya jabon selama 5 tahun “hanya” Rp. 572.800.000. Biaya penanaman dan pemupukan selama 5 tahun diperkirakan Rp. 30.000 per batang, sehingga kalau kita lihat dari asumsi ini maka tanam Jabon sangatlah menjanjikan baik dari segi keuntungan maupun waktu yang tidak terlalu panjang dalam berinvestasi.

                 Oleh karena itu,  menanaman pohon jabon bagaikan menanam batangan emas diladang kita sendiri, sebab kebutuhan kayu akan terus meningkat, dan saat ini pemerintah melarang penggunaan kayu bulat hasil tebangan hutan alam, akibatnya banyak industri tutup akibat kekurangan pasokan kayu, jadi pada masa mendatang, harga kayu jabon akan semakin meningkat terus, seiring dengan tingkat kebutuhan dan permintaan yang semakin bertambah tiap tahunnya, sedangkan persediaan kayu semakin lama semakin terbatas.

 

 

 

PENUTUP

                Berdasarkan data yang ada diatas, maka nilai jual dari jabon yang cukup tinggi ini harus dapat digunakan oleh Pemerintah untuk  mendorong masyarakat agar mau menanam dan atau membudidayakannya sehingga secara tidak langsung dapat  meningkatkan kesejahteraan mereka. Dengan demikian, dengan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat dari budidaya jabon ini diharapkan kedepannya dapat  mengurangi tekanan masyarakat terhadap sumber hutan dalam bentuk illegal logging, dll.

Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari semua pihak untuk mensukseskan dan mensosialisasikan budidaya dan pengembangan usaha dari tanaman jabon ini. Terakhir saya tuliskan sebuah pantun pendek, “Jala-Jalan Ke Kalimantan, Jangan Lupa Membeli Abon…Kalau Saudara Ingin Menjadi Seorang Jutawan, Jangan Lupa Tanam dan Peliharalah Pohon Jabon”. Salam Penyuluh Kehutanan!!!

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Al-Qur’an, Keteladanan Rasulullah SAW Dan Pelestarian Alam Sekitar

Pendahuluan
Bumi kita pada saat ini sedang mengalami degradasi atau krisis yang sudah sangat memprihatinkan. Hal ini dapat dilihat dari bencana alam yang sering terjadi, seperti cuaca yang semakin tidak bisa ditebak, ketersediaan udara dan air bersih yang sudah mulai terancam, banjir dan tanah longsor saat musim hujan tetapi mengalami kekeringan saat datang musim kemarau, krisis pangan global, munculnya penyakit-penyakit baru yang sulit disembuhkan, serta masih banyak tanda-tanda bahwa alam dan lingkungan hidup ini telah mengalami kerusakan dan pencemaran sehingga alam kehilangan keseimbangannya. Untuk itulah diperlukan perhatian, kesadaran dan kerjasama dari semua pihak untuk menyelesaikan masalah ini.
Islam adalah Diin yang Kaamil (Sempurna) karena ia adalah sistem dan pedoman hidup yang diturunkan oleh Allah SWT Yang Maha Mengetahui dan Maha Menciptakan. Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT : “……..Dia (Allah) Pencipta segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu” (QS. Al-An’aam : 101). Kemudian di ayat lain Allah Berfirman, “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan atasmu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai aturan/pedoman hidupmu.”(QS.Al-Maidah :3). Sungguh sangat elok dan indah, lengkap serta terperinci aturan Allah Yang Maha Menciptakan karena mencakup semua bidang yang dibutuhkan oleh umat manusia dalam kehidupannya di muka bumi ini tak terkecuali diantaranya adalah mengatur hubungan antara manusia dengan alam sekitar. Aturan hubungan antara manusia dan alam inilah yang sering dilupakan dan diabaikan oleh Umat Islam.
Rasulullah SAW diutus Allah SWT dengan membawa Islam adalah untuk memperbaiki akhlak/perilaku manusia. Kehadiran beliau sekaligus sebagai rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil ‘alamin), termasuk rahmat bagi hidupan liar (wildlife). Akan tetapi sebagian besar umat islam saat ini tidak mengetahui bahwa dalam sejarah, Rasulullah SAW juga banyak memberikan contoh keteladanan bagaimana kita sebagai umat manusia bersikap terhadap alam dan lingkungan sekitar.

Al-Qur’an Berbicara Tentang Penyebab Kerusakan Alam
Kerusakan alam pada umumnya disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena sebuah fenomena alam itu sendiri dimana hal itu terjadi sebagai sebuah proses dinamika dan regenerasi alam itu sendiri.
Misalkan bencana alam seperti gunung api meletus, tsunami, tanah longsor, dan gempa. Tetapi, bencana-bencana tersebut tidak semuanya disebabkan faktor alam dan bukan merupakan penyebab utama rusaknya alam ini. Banjir air, lumpur dan tanah longsor misalnya, merupakan bencana yang tidak dapat dipisahkan dari faktor manusia yang tidak ramah dengan alam dan lingkungannya sendiri sehingga keseimbangan alam dan lingkungan menjadi hilang. Hal ini didasarkan pada Al-Qur’an: ”Dan Langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan. Agar kamu jangan merusak keseimbangan itu” (QS.Ar-Rahman:7-8) serta di ayat lain, ”Dan kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.”(QS. Hijr: 9).
Penyebab kedua, yaitu kerusakan alam dan lingkungan ini merupakan akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT yaitu “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS.Ar-Rum: 41).
Jadi jelaslah bahwa dari dua penyebab ini, bahwa manusia ternyata merupakan penyebab utama dari semua kerusakan alam yang terjadi. Manusia sering melakukan hal-hal yang berujung pada rusaknya alam, seperti aktivitas pembangunan Mall atau Gedung di daerah resapan air, penambangan yang melampaui batas, penggundulan hutan secara besar-besaran, konsumsi energi yang berlebihan, konversi lahan dan masih banyak lainnya.
Sebagian besar manusia yang katanya mengaku beragama islam, tetapi seringkali tindakannya hanya dilandasi oleh kepentingan pribadi tanpa sedikitpun memikirkan dampak dan akibat yang akan terjadi pada alam disekitarnya. Padahal, manusia sebagai khalifah di muka bumi ini bertanggung jawab sepenuhnya pada apa yang terjadi di muka bumi ini. Hal ini merupakan suatu ironi dimana perusakan yang dahsyat terhadap alam justru dilakukan oleh makhluk yang seharusnya bertindak sebagai khalifah yaitu pelindung dan pemelihara bumi ini.

Al-Qur’an Mengharamkan Umat Islam Merusak Alam dan Wajib Melestarikannya.
Firman Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an : “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS. 28:77). “Dan apabila ia berpaling, ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanama-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan” (QS. 2: 205).
Ayat diatas sangat jelas maksudnya, yakni melarang manusia pada umumnya dan umat islam pada khususnya melakukan pengrusakan di muka bumi sebab Allah SWT melaknat orang-orang yang hidupnya menimbulkan kerusakan di bumi. Menurut kajian Ushul fiqh, ketika kita dilarang melakukan sesuatu berarti kita diperintahkan untuk melakukan kebalikannya. Misalnya, kita dilarang merusak alam berarti kita diperintah untuk melestarikan alam. Adapun status perintah tersebut tergantung status larangannya. Contoh, status larangan merusak alam adalah hukumnya haram, itu menunjukan bahwa perintah melestarikan alam hukumnya wajib. (Jam’ul Jawami’,I.390)

Keteladanan Rasulullah SAW Mengenai Pelestarian Alam dan Hidupan Liar
Rasulullah SAW diutus Allah SWT dengan membawa Islam adalah untuk memperbaiki akhlak/perilaku manusia. Kehadiran beliau sekaligus sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), termasuk rahmat bagi lingkungan hidup. Hal ini sesuai dengan Firman Allah SWT: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya’:107).
Dalam sejarah hidupnya, Rasulullah SAW telah memberikan banyak contoh tauladan langsung bagi ummatnya. Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana hidupan liar dan sumberdaya alam lainnya mempunyai hak dalam Islam. Dibawah ini contoh-contoh keteladanan Rasulullah SAW tentang Pelestarian Alam dan Lingkungan hidup diantaranya:
Ketika menaklukkan Makkah (fathu al-Makkah), Nabi Muhammad SAW memberikan perintah kepada para sahabatnya : Pertama, jangan menyakiti wanita dan anak-anak. Kedua, jangan melukai dan membunuh orang-orang Quraisy yang sudah menyerah serta tak berdaya. Ketiga, jangan menebang pohon dan membunuh binatang di daerah penaklukan.
Perintah yang ketiga Rasulullah SAW yang diucapkan 1.500 tahun lalu itu, kini mulai membuka kesadaran ummat manusia akan pentingnya pelestarian alam. Perintah Rasulullah SAW itu memang sangat berat untuk dilaksanakan dan menimbulkan konsekuensi luas, terutama bagi pasukan Islam yang sudah merasakan kekejian dan kekejaman tentara Quraisy. Mereka tak bisa melampiaskan dendamnya kepada orang Quraisy, meski hanya membabat pohon kurma atau membunuh unta dan kuda musuhnya. Dalam kaitan perintah ketiga ini, ternyata Rasulullah SAW melihatnya dari cara sudut pandang lain yang jauh lebih penting yaitu mementingkan masa depan, yakni kelestarian lingkungan dan ekosistem. Bahkan untuk mendukung pembangunan ekosistem, Rasulullah SAW bersabda :
“Tanamlah bibit pohon yang ada ditanganmu sekarang juga, meski besok kiamat. Allah akan tetap memperhitungkan pahalanya.”
Dalam kitab Riadhus Solihin antara lain ditulis hadist Rasulullah SAW, yakni Ibnu Masíud ra. berkata: “Ketika kami bersama Rasulullah SAW dalam berpegian dan Rasulullah sedang pergi berhajat, kami melihat seekor burung yang mempunyai dua anak, maka kami ambil kedua anaknya kemudian datanglah induknya terbang diatas kami, maka datang Nabi saw. dan bersabda: “Siapakah yang menyusahkan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan kepadanya anaknya”.
Dalam kehidupan nyata seperti sekarang ini, masih banyak dari kita yang senang dalam memelihara anak burung yang diawali dengan mengambil anak burung dari sarangnya dengan memanjat pohon tempat sarang tersebut, apakah dilakukan sendiri atau mendapatkan dari orang lain. Ironis bukan? Pemenuhan ego manusia, seperti kasus tersebut telah mengabaikan hak burung tersebut. Lalu apakah kita tidak merasa iba dengan induknya,,lalu bagaimana seandainya kalau hal itu menimpa anak kita?
Kemudian setelah itu Rasulullah SAW melihat sarang semut terbakar, maka beliau bertanya: “Siapa yang membakar ini?” Jawab kami: “Kami ya Rasulullah”. Bersabda Nabi: “Tidak harus menyiksa dengan api kecuali Tuhan yang menjadikan api”.
Berdasarkan riwayat hadist diatas, membakar sarang semut saja dilarang keras oleh Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan membakar hutan dan lahan secara sembarangan??? Tidak saja sarang semut yang terbakar, namun rumah ribuan satwa serta berbagai jenis tumbuhan juga musnah. Lalu, asapnya menyebar kemana-mana sehingga mengganggu pemandangan dan pernafasan makhluk hidup lainnya.
Selain itu ada dua hal yang dilarang Rasulullah SAW dalam riwayat hadist diatas, yakni, pertama Larangan menyusahkan satwa liar, dalam hal ini dicontohkan burung, dan kedua Larangan menyiksa satwa liar.
Di lain hadist, Dari Syaddad bin Aus mengatakan: “Ada dua hal yang kuhafal dari sabda Rasulullah saw. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik kepada segala sesuatu. Jika engkau membunuh (binatang), lakukanlah dengan baik, jika menyembelih (binatang), lakukanlah dengan baik dengan mengasah tajam pisaunya, sehingga tidak menyiksa binatang yang disembelih” (Riwayat Muslim).
Dan dari Amru bin Syarid, ia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa yang membunuh seekor burung dengan sia-sia (tanpa maksud tertentu), burung tersebut akan mengadukan kepada Allah di hari kiamat, seraya berkata: “Wahai Tuhan, si fulan telah membunuhku dengan sia-sia dan aku dibunuh tidak dengan tujuan yang bermanfaat” (Riwayat Ibn Hibban).
Kemudian dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW juga bersabda, “Tidak seorang muslim pun yang menanam tumbuhan atau bercocok tanam, kemudian buahnya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang ternak, kecuali yang dimakan itu akan bernilai sedekah untuknya.”
Berdasarkan hadist-hadist di atas sangat jelas bahwa Rasulullah SAW juga sangat perhatian terhadap hidupan liar dan kelestarian alam. Rasulullah SAW juga banyak memberikan keteladanan untuk ummatnya. Bahwa segala sesuatu yang kita lakukan akan tetap ada pertanggungjawabannya di alam akhirat nanti.
Penutup
Menyadari rumit dan kompleksnya masalah alam dan lingkungan hidup, maka langkah awal pemecahannya adalah peningkatan kerjasama antar ahli kehutanan dan alim-ulama untuk saling bahu-membahu agar mampu mengemban amanat Allah untuk memelihara bumi ini. Salah satu contoh kerjasama tersebut adalah program pelatihan bagi para tokoh agama untuk memperdalam wawasan lingkungan hidup sehingga ilmu dan pengalaman yang mereka peroleh, dapat mereka jadikan sebagai materi ceramah, khutbah jumat, serta penerbitan fatwa untuk menghentikan perusakan lingkungan dll.
Selanjutnya untuk tujuan jangka panjang perlu dikembangkan bidang ilmu ataupun kurikulum pendidikan yang menjadikan ilmu pelestarian alam dan lingkungan hidup adalah bagian integral dari kajian ajaran Islam. Dengan pendidikan akan tumbuh kesadaran bahwa lingkungan hidup bukan sesuatu yang menjadi monopoli peradaban barat, tetapi merupakan bagian integral dari keimanan umat islam.

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

TAMAN BURU

Mengoptimalkan Pengelolaan Taman Buru Sebagai Lokasi Kegiatan Berburu Satwa Liar Untuk Menghasilkan Devisa Buat Negara

Oleh : Firmansyah, S.Hut

Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkenal sebagai negara Mega Biodiversity karena memiliki keanekaragaman flora fauna yang sangat tinggi. Meskipun hanya memiliki 1,3 % dari luas seluruh permukaan bumi, namun Indonesia memiliki  kurang lebih 38.000 jenis tumbuhan termasuk 27.500 jenis tumbuhan berbunga (10% dari tumbuhan berbunga di dunia, yang separuhnya merupakan jenis endemik Indonesia), 515 jenis mamalia (12% dari jenis mamalia di dunia), 511 jenis reptilian (7,3% dari jenis reptilian di dunia), 270 jenis amphibia, 1.531 jenis burung (17 % dari jenis burung di dunia), 2.827 jenis hewan tak bertulang, 121 jenis kupu-kupu (44 % jenis endemik), serta lebih dari 25% jenis ikan air laut dan air tawar di dunia ada di kawasan hutan Indonesia. Selain itu, Indonesia memiliki 477 jenis tumbuhan palma (47% endemik) dan kurang lebih 3.000 jenis tumbuhan berkhasiat obat.

      Berbagai fakta membuktikan bahwa perekonomian yang bertumpu pada eksploitasi sumberdaya alam tidak terpulihkan hanya akan menciptakan suasana ketidakpastian yang ditandai dengan resesi berkepanjangan. Demikian pula halnya dengan eksploitasi sumberdaya alam terpulihkan tetapi tidak mengikuti kadiah konservasi terbukti banyak menimbulkan bencana dan malapetaka seperti kondisi sekarang ini dimana alam mulai tidak bersahabat. Hal ini ditunjukan dari banyaknya bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia

      Salah satu bentuk pemanfaatan secara lestari satwaliar yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi untuk mendatangkan devisa negara serta meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan adalah kegiatan wisata perburuan, baik yang ditujukan untuk rekreasi (hunting tourism), olah raga berburu (hunting sport), maupun berburu trofi (hunting trophy).

          Perburuan memegang peranan penting dalam pengendalian populasi untuk mencapai keseimbangan pada tingkat keanekaragaman hayati yang menguntungkan serta melindungi kepentingan umat manusia yang lain. Pemburu profesional memiliki kesadaran yang tinggi terhadap penting-nya kelestarian lingkungan serta memahami keseimbangan populasi yang perlu dipertahankan pada tingkat keselamatan keanekaragaman hayati. Populasi yang tidak seimbang dapat menimbulkan dampak negatif bagi keanekaragaman hayati.

Sebagai contoh keberhasilan adalah pengusahaan perburuan di hutan Bilje (Negara Pecahan Yugoslavia) yang mampu menghasilkan devisa sebesar 20 Juta U$ Dolar, Negara Bagian Colorado AS yang berhasil mengantongi pendapatan 9,5 juta U$ Dolar dari wisata buru binatang dan sebagian besar yakni 6,5 Juta U$ dari wisata buru rusa diluar jenis binatang lainnnya.

          Berdasarkan hal-hal di atas, maka perlu diketahui ada kawasan konservasi yang dipersiapkan selain untuk tujuan pelestarian juga untuk mengakomodir kebutuhan perburuan satwa liar yaitu Taman Buru. Dengan demikian, kawasan Taman Buru memang dibangun untuk keperluan perburuan satwa liar yang sudah ditentukan jenisnya, dan disertai persyaratan-persyaratannya.

Sejarah dan Dasar Hukum Perburuan di Indonesia

      Kegiatan perburuan di Indonesia telah berkembang sejak masa lampau dan pada awalnya merupakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sesuai dengan perkembangan peradaban manusia dan teknologi, kegiatan perburuan berkembang sampai sekarang menjadi rekreasi di alam terbuka, olahraga berburu bahkan wisata berburu.

      Perburuan secara legal (atas izin pemerintah) telah dirintis sejak tahun 1747 dengan satwa sasaran adalah badak dan harimau, sedangkan pengaturan teknis mulai diterapkan pada tahun 1980 di Hutan Rinjani Lombok. Cikal bakal peraturan yang mengatur tentang perburuan di Indonesia lahir pada tahun 1931, yaitu Undang-Undang Perburuan dan Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar, kedua undang-undang ini dijadikan pedoman bagi peraturan-peraturan selanjutnya.

      Kegiatan perburuan yang dikelola secara modern dan profesional merupakan sesuatu yang baru di Indonesia, oleh karena itu perlu adanya peraturan maupun undang-undang yang mengaturnya secara khusus. Pada masa itu kegiatan perburuan diatur oleh tiga undang-undang serta didukung oleh beberapa peraturan pemerintah yang diterbitkan sejak jaman penjajahan Belanda. Tiga undang-undang yang tersebut adalah Undang-Undang Senjata Api, Mesiu, dan Bahan Peledak (Vuurwapen Ordonantie), Undang-Undang Perburuan tahun 1931 (jacht Ordonantie), dan Undang-Undang Perlindungan Binatang Liar tahun 1931 (Dierenbescherning Ordonantie).

      Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, maka semua Undang-Undang produk Hindia Belanda yang mengatur Perlindungan Binatang Liar Tahun 1931, Perburuan Satwaliar 1931 dan Perburuan Satwaliar di Jawa dan Madura, dinyatakan tidak berlaku lagi. Perkembangan selanjutnya kegiatan perburuan diatur lebih lanjut oleh Peraturan Pemerintah yang merupakan penjabaran dari UU No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, sedangkan teknisnya diatur dengan peraturan dibawahnya yakni Keputusan Menteri atau Keputusan Direktur Jenderal. Setelah melewati proses dan waktu yang cukup lama, maka telah disahkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Perburuan Satwa Buru yang memberi penguatan secara hukum bagi pengusahaan wisata buru di Indonesia.

      Hal ini diikuti oleh munculnya banyak pemburu yang membentuk wadah atau organisasi para pemburu. Pada mulanya wadah pemburu adalah perkumpulan-perkumpulan olah raga buru (Hunting Clubs) yang terdapat di daerah. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi, pemerintah secara resmi menetapkan Perbakin untuk menjadi wadah atau organisasi para pemburu yang menampung kegiatan perburuan dan aktivitas olah raga berburu. Sekarang ini hampir seluruh daerah kabupaten di Indonesia telah terbentuk cabang Perbakin. Selain itu, untuk meningkatkan pengawasan perburuan Menteri Kehutanan membentuk organisasi yang bersifat koordinatif yaitu Tim Teknis Pertimbangan Perburuan di tingkat pusat dan daerah yang anggotanya terdiri dari unsur Kementerian Kehutanan, POLRI, Pemerintah Daerah dan Perbakin.   

Prospek Kegiatan Perburuan Satwaliar Di Indonesia

        Jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indoensia pada Bulan Oktober 2010 sekitar 5,78 juta orang. Diperkirakan 40-60% wisatawan international merupakan wisatawan alam dan 20-40% diantara wisatawan alam tersebut merupakan wisatawan yang berminat pada wisata yang terkait dengan hidupan liar dan 10-20% diantara wisata yang berminat terkait dengan hidupan liar adalah yang berminat pada wisata berburu dimana berpengaruh sangat penting bagi pengembangan wisata domestik.

          Selain itu, jumlah pemburu legal yang tergabung dalam Perbakin sampai Maret 2004 adalah sebanyak 3.031 orang. Presentase anggota Perbakin yang mengkhususkan diri sebagai atlit menembak sekitar 40% dan yang bergabung dengan hoby berburu sekitar 60% (Perbakin DKI, tanpa tahun) Maka dari itu, untuk menampung dan mengantisipasi minat masyarakat tersebut, Pemerintah Indonesia telah menetapkan 15 lokasi taman buru dengan luas kawasan mencapai 219.392,49 ha (Ditjen PHKA 2005).Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan kegiatan perburuan di Indonesia memiliki prospek yang  baik karena diperkirakan akan terdapat minimal 100.000 wisatawan perburuan setiap tahunnya.

Hal-Hal yang harus diperhatikan

Daerah atau tempat yang ideal untuk dijadikan sebagai lokasi berburu adalah yang memenuhi kebutuhan hidup satwa buru dan pemburu itu sendiri. Kebutuhan hidup satwa buru itu meliputi adanya pelindung (cover/shelter), ketersediaan berbagai jenis pakan, air dan faktor-faktor lain yang dibutuhkan oleh spesies satwa liar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan keberhasilan reproduksi. Sedangkan yang dibutuhkan pemburu untuk lokasi perburuan adalah kondisi topografi yang masih dapat ditolerir oleh pemburu (datar/tidak curam), akses jalan bagi pemburu relatif mudah yang dapat dilalui dengan berjalan kaki, lokasi tersebut memungkinkan untuk dikelola sebagai penyebaran atau pelepasan satwa buru, dan jumlah luasan areal yang cukup sehingga pemburu merasa aman serta nyaman dalam melakukan kegiatan perburuan atau relatif aman dari hasil uji balistik.

          Pengawasan dan pengendalian perburuan di Lokasi harus dilakukan dilakukan yakni oleh petugas dari Lokasi Buru tersebut. Tugas dari petugas pengawas perburuan diantaranya memeriksa kelengkapan perizinan berburu (KTP/Paspor, Akta buru, Surat Izin Berburu, dan Surat izin penggunaan senjata api buru), Mencocokan keterangan yang tercantum dalam Akta Buru dan Surat Izin Berburu tentang lokasi berburu, jenis dan jumlah satwa buru yang boleh diburu, serta membuat laporan tentang pelaksanaan kegiatan perburuan dan membuat berita acara pemeriksaan apabila terjadi pelanggaran dalam pelaksanaannya.

          Dalam pengembangan usaha wisata buru maka terdapat dua alternatif penentuan kuota buru, yakni: a) kuota buru ditentukan sebelum pengusahaan diselenggarakan sehingga dapat menjamin kelestarian ekologi dan memberikan manfaat finansial yang berkesinambungan, dan b) kuota buru ditentukan berdasarkan laju pertumbuhan populasi yang terdapat di dalam kawasan buru. Alternatif pertama terjadi bila di kawasan buru bersangkutan belum terdapat satwa buru sehingga perlu dilakukan introduksi satwa buru, sedangkan alternatif kedua telah terdapat satwa buru. Pada alternatif kedua, satwa buru yang ada dapat berada pada kondisi yang mencukupi atau kurang cukup untuk dilakukan perburuan.

 

         

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

JENIS DAN MANFAAT BAMBU

“EMAS HIJAU”  ITU BERNAMA BAMBU

   Oleh :

Firmansyah, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Ahli

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan

BP2SDMK

 

Saat ini Kementerian Kehutanan terus berusaha menggalakkan dan mengembangkan lima jenis prioritas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), salah satunya adalah bambu. Selain karena memiliki prospek yang sangat menjanjikan serta terbatasnya jumlah hasil kayu saat ini, bambu merupakan alternatif pengganti kayu yang paling ideal saat ini sebagai bahan bangunan maupun mebel.

Kebutuhan akan kayu untuk perumahan dan mebel semakin meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk di Indonesia. Ditambah dengan illegal loging, telah menyebabkan kerusakan hutan di Indonesia saat ini semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai salah satu komponen lingkungan hidup yang terjamin kelestariannya, maka langkah yang perlu dilakukan adalah menghentikan penebangan kayu hutan dan melakukan reboisasi sampai hutan kembali sehat dan mencapai keseimbangan. Dalam hal ini, tentunya terlebih dahulu perlu dicari bahan lain untuk menggantikan kayu sebagai bahan bangunan maupun mebel.

Apabila melihat kondisi saat ini, bambu merupakan tanaman yang tidak asing lagi untuk masyarakat Indonesia karena tanaman ini sudah tersebar di seluruh wilayah nusantara ini. Akan tetapi, banyaknya keunggulan, manfaat dan nilai ekonomi yang diperoleh dari tanaman ini mulai dari  bagian akarnya, batangnya, rebungnya, bahkan daunnya sekalipun ternyata belum diketahui sepenuhnya oleh masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, minimal perlu adanya sosialisasi atau transfer informasi kepada masyarakat luas agar dapat lebih mengenal tanaman bambu ini sehingga diharapkan bambu dapat dilestarikan, dibudidayakan serta dapat dijadikan sumber penghasilan bagi masyarakat.

Mengenal Tanaman Bambu

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, (Wikipedia). Beberapa keunggulan bambu :

  1. 1.     Mudah ditanam dan tidak memerlukan pemeliharaan khusus.
  2. Untuk melakukan budidaya bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap, hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi.
  3. Secara fisik memiliki kelebihan yaitu serat panjang dan rapat, lentur tidak mudah patah, dinding keras dan sebagainya. Kecepatan pertumbuhan bambu dalam menyelesaikan masa pertumbuhan vegetatifnya merupakan tercepat dan tidak ada tanaman lain yang sanggup menyamainya. Dari beberapa hasil penelitian, kecepatan pertumbuhan vegetatif bambu dalam 24 jam berkisar 30 cm – 120 cm per 24 jam, tergantung dari jenisnya. Sebuah keajaiban pertumbuhan yang tidak dapat ditemukan pada tanaman lain.
  4. Budidaya bambu dapat dilakukan sembarang orang, dengan peralatan sederhana dan tidak memerlukan bekal pengetahuan yang tinggi.
  5. Memiliki ketahanan yang luar biasa, Sebagai contoh : rumpun bambu yang telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi, bahkan pada saat Hiroshima dijatuhi bom atom sampai rata dengan tanah, bambu adalah satu-satunya jenis tanaman yang masih bertahan hidup.

Jenis-Jenis Bambu

Di Indonesia terdapat lebih kurang 125 jenis bambu. Ada yang masih tumbuh liar dan belum jelas kegunaannya. Beberapa jenis bambu tertentu mempunyai manfaat atau nilai ekonomis tinggi seperti : bambu apus, bambu ater, bambu andong, bambu betung, bambu kuning, bambu hitam, bambu talang, bambu tutul, bambu cendani, bambu cangkoreh, bambu perling, bambu tamiang, bambu loleba, bambu batu, bambu belangke, bambu sian, jepang, bambu gendang, bambu tali dan bambu pagar (Berlian dan Rahayu, 1995).

Manfaat dan Kegunaan Tanaman Bambu

Bambu merupakan tanaman rakyat terpenting dan banyak kegunaannya untuk kehidupan sehari-hari, baik sebatas kebutuhan rumah tangga maupun sebagai sumber perdagangan. Hampir tiap petani di pedesaan memiliki tanaman bambu di kebunnya masing-masing. Tanaman bambu ini secara umum sangat efektif untuk reboisasi wilayah hutan terbuka atau gundul akibat penebangan karena pertumbuhan rumpun bambu yang sangat cepat dan toleransinya terhadap lingkungan sangat tinggi serta memiliki kemampuan memperbaiki sumber tangkapan air sangat efektif.

 

  1. Akar

Akar bambu, selain sebagai penahan erosi guna mencegah bahaya kebanjiran, juga dapat berperan dalam menangani limbah beracun akibat keracunan merkuri dengan cara menyaring air yang terkena limbah tersebut melalui serabut-serabut akarnya. Selain itu, akar bambu juga mampu melakukan penampungan mata air sehingga bermanfaat sebagai sumber penyediaan air sumur.

  1. Batang

Batang bambu baik yang masih muda maupun yang sudah tua dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Namun demikian, tidak semua jenis bambu dapat dimanfaatkan. Batang bambu yang masih bulat dapat dimanfaatkan untuk komponen bangunan rumah seperti dinding, atap, lantai, pintu jendela, dan tiang; juga sebagai komponen konstruksi jembatan, pipa, saluran air dsb. Batang bambu yang sudah dibelah banyak dimanfaatkan untuk industri kerajinan tangan dalam bentuk anyaman atau ukiran, perabot rumah tangga, dll. Batang bambu bulat dan belah banyak dimanfaatkan oleh industri furniture seperti meja, kursi, lemari rak dan tempat tidur. Bambu dalam bentuk serat dapat dimanfaatkan untuk industri pulp dan kertas.  

  1. Daun

Untuk daun bambu, masyarakat tradisional biasa menggunakan sebagai alat pembungkus, misalnya makanan kecil seperti uli dan wajik. Di beberapa daerah, daun bambu merupakan obat tradisional untuk mengobati demam/panas pada anak-anak. Hal ini disebabkan daun bambu mengandung zat yang bersifat mendinginkan sehingga panas dalam dapat dengan mudah diredakan. Daun bambu muda yang tumbuh di ujung cabang dan berbentuk runcing juga sangat mujarab bagi mereka yang tidak tenang pikiran atau malam hari tidak bisa tidur. Cara penggunaannya adalah daun tersebut direbus dengan air kemudian diminum.

  1. Rebung/ Trubus Bambu/ Tunas Bambu

Sedangkan manfaat dari tunas bambu, yang lebih dikenal sebagai rebung atau trubus bambu adalah sebagai bahan pangan yang tergolong kedalam jenis sayur-sayuran. Namun, tidak semua jenis bambu dapat dimanfaatkan rebungnya untuk bahan pangan karena rasanya ada yang sangat pahit.

Menurut sebagian praktisi kuliner, jenis bambu yang rebungnya enak dimakan diantaranya ialah bambu temen dan bambu betung. Rebung bambu temen rasanya paling manis dan teksturnya pun paling halus. Sedangkan rebung bambu betung selain enak dimakan, bobotnya bisa mencapai 15 kg/buah. Dewasa ini, masakan rebung dari indonesia semakin digemari oleh masyarakat di Jepang, Korea Selatan dan RRC. 

  1. Tanaman Obat

Saat ini, Bangsa Cina telah memproduksi cairan bambu dalam kemasan botol yang banyak diekspor ke luar negeri. Obat cairan ini disebut Cuk li sui yaitu ramuan cairan bambu yang di gabungkan dengan benalu untuk menyembuhkan lumpuh badan sebelah yang diakibatkan oleh tekanan darah tinggi. Bagi penyakit yang begitu berat, obat tersebut dapat membebaskan saluran pembekuan otak yang terhenti sehingga penderita dapat cepat sembuh.

  1. Tanaman Hias

Tanaman bambu banyak pula yang dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Mulai dari jenis bambu kecil, batang kecil, lurus, dan pendek yang banyak ditanam sebagai tanaman pagar di pekarangan. Selain itu terdapat jenis-jenis bambu hias lain yang dapat dimanfaatkan untuk halaman pekarangan yang luas, halaman terbatas, dan untuk pot.

Bambu hias sekarang ini tengah banyak dicari konsumen. Alasannya penampilan tanaman bambu unik dan menawan. Tak heran jika bambu pun banyak ditanam sebagai elemen taman. Apalagi makin disukainya taman bergaya jepang atau tropis yang memasukkan unsur bambu sebagai salah satu daya tariknya. Jenis bambu yang banyak dimanfaatkan sebagai tanaman hias antara lain bambu kuning, bambu cendani, bambu sian, bambu macan, bambu jepang, bambu perling, bambu talang, bambu uncue, bambu loleba, dan lain-lain

Aspek Teknis Budidaya dan Syarat Tumbuh Bambu

Bambu merupakan salah satu jenis tanaman perintis sehingga untuk tumbuh tidak membutuhkan persyaratan tumbuh yang teramat rumit sebagaimana tanaman lain. Tumbuh mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sesuai dengan jenis. Memiliki umur yang panjang dalam siklus hidupnya ± 30 -100 tahun bahkan lebih, tergantung dari jenisnya.

Secara teknis bahan tanaman bambu dapat dikembangkan dengan teknik stek rhizome akar, stek batang, stek cabang serta benih. Masa pembibitan tanaman bambu biasanya memerlukan waktu antara 6-10 bulan. Sedangkan lahan yang paling optimal dan ideal dalam pengembangan tanaman bambu adalah wilayah asal jenis yang bersifat endemik tempat tumbuh, akan tetapi bambu memiliki toleransi cukup tinggi terhadap lahan kecuali pada lahan-lahan yang selalu tergenang. Untuk faktor-faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman bambu adalah kondisi iklim dan jenis tanah.

a.Iklim

Tempat yang disukai tanaman bambu adalah lahan yang terbuka dan terkena sinar matahari langsung dengan suhu berkisar 8,8 – 36oC. Tanaman bambu bisa dijumpai mulai dari ketinggian 0 sampai 2.000 m dpl. Di Indonesia tanaman bambu dapat tumbuh pada berbagai tipe iklim, mulai dari tipe curah hujan A,B,C,D sampai E (Schmidt-Ferguson) atau dari iklim basah sampai kering. Semakin basah tipe iklimnya, semakin banyak jenis bambu yang dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dikarenakan bambu termasuk jenis tanaman yang membutuhkan banyak air. Curah hujan yang dibutuhkan tanaman bambu minimal 1.020 mm/thn sedangkan kelembaban yang dikehendaki minimal 80%.

b. Tanah

Bambu dapat tumbuh diberbagai jenis tanah, mulai dari tanah berat sampai ringan, tanah kering sampai becek dan dari subur sampai kurang subur. Juga dari tanah pegunungan yang berbukit sampai tanah yang landai. Perbedaan jenis tanah dapat berpengaruh terhadap kemampuan perebungan bambu. Tanaman bambu dapat tumbuh pada tanah yang bereaksi masam dengan pH 3,5 dan kondisi optimalnya tanah yang memiliki pH 5,0 sampai 6,5.

Aspek Ekonomi Bambu

Secara ekonomis, produk-produk yang berasal dari bambu memiliki nilai yang cukup baik. Banyak produk-produk yang dihasilkan mencakup mulai dari sandang (serat  untuk pembuatan pakaian, dll), papan (papan lembaran, lantai, meubel, dll), pangan (rebung kalengan, kripik, aneka jenis makanan olahan, dll), estetika & budaya (kertas budaya untuk sembahyang, pernik-pernik artifisial ruangan, dll), kesehatan (arang, vinegar, dll)  dan sebagainya. Dengan pengolahan berteknologi tinggi, bambu dapat dijadikan kertas kualitas nomor satu, bahan obat-obatan kesehatan berkualitas, dsb. Masih banyak lagi potensi bambu yang terpendam dan belum tergali, tentunya dibutuhkan suatu inovasi teknologi kedepan guna dapat mewujudkan potensi tersebut.

Untuk kebutuhan bambu dapat dicontohkan sebagai berikut :

  • Kebutuhan arang bambu 72 ton/bulan, namun hanya terpenuhi 2 ton/bulan (ekspor ke Jepang), eksportir dari Solo.
  • Industri dan Kerajinan bambu di desa Cebongan (Sleman, Yogyakarta) hanya terpenuhi 50% bahan baku dari kapasitas yang dimiliki
  • Di Kecamatan Manyar (Banyuwangi) untuk keranjang ikan membutuhkan bambu sampai 1.600 batang per hari.
  • Di Desa Pakraman Angseri (Bali) kebutuhan bambu untuk acara adat perawatan rumah adat dll mencapai 2.275 batang/tahun.   

Selain itu, Indonesia juga telah menjadi anggota tetap International Network Bamboo and Rattan (INBAR) yang berpusat di Beeijing. Berdasarkan data yang dikumpulkan Direktorat Bina Perhutanan Sosial di 22 Provinsi terdapat luas tanaman bambu rakyat seluas 180.094,23 ha dengan perkiraan jumlah batang 540.962.125 batang.. Untuk negara yang menjadi tujuan ekspor bambu tercatat sebanyak 19 negara yang tersebar di Asia, Eropa, Australia dan Amerika. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa prospek pengembangan budidaya bambu memiliki prospek yang cerah mengingat besarnya kebutuhan akan bambu sementara pasokan yang ada masih terbatas

Penutup

Menilai hasil diatas, bambu terbukti memiliki banyak keungulan, manfaat dan potensi yang sangat baik untuk dibudidayakan. Jika budidaya tanaman bambu benar-benar diperhatikan, serta pemanfaatannya dimaksimalkan, akan mampu mendongkrak nilai ekonomis bambu itu sendiri, sekaligus meningkatkan penghasilan masyarakat pengguna bambu serta menambah devisa buat negara.

Mengutip dari pepatah lama “Tak Kenal Maka Tak Sayang” mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini kita semua menjadi cinta dan tergerak untuk melestarikan bambu disekitar kita. At least but not the last “Tak ada rotan, akarpun jadi” Tak ada kayu, bambu pun bisa kita gunakan.

 

Sumber bacaan :

  • V.A Berlian, Nur dan Estu Rahayu.,Jenis dan Prospek Bisnis Bambu, 1995.
  • Pusat Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan., Bambu. Leaflet, 2011.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Uncategorized | 13 Komentar

BIJI KELOR

TANAMAN KELOR

PERMATA KEHUTANAN YANG TERPENDAM

 

Oleh :

Firmansyah, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Ahli

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan

 

                Air adalah kebutuhan “mutlak” dari semua makhluk hidup. Akan tetapi, persediaan terhadap air terutama air bersih bagi berjuta umat manusia di dunia khususnya penduduk yang hidup dalam kemiskinan di berbagai negara berkembang seperti di Afrika, Amerika Selatan, Asia, termasuk di Indonesia khususnya niscaya masih menjadi barang langka layaknya barang yang mewah. Padahal ketersediaannya merupakan sebuah kebutuhan dasar bagi manusia.

                Sesuai dengan Pasal 33 ayat 3 UUD Tahun 1945, disebutkan bahwa “Bumi, Air dan Kekayaan Alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Namun bila kita melihat kenyataan di lapangan, masih ada daerah-daerah di Indonesia yang belum bisa menikmati sumberdaya air sesuai kebutuhan terutama kebutuhan akan  air bersih yang masih sangat jauh dari kata  “cukup”.

                Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut sudah saatnya sekarang kita harus mengembangkan teknologi tepat guna penjernih air yang ramah lingkungan, dalam artian tidak mencemari lingkungan, dan ini sangat cocok untuk mendukung pembangunan kehutanan. Teknologi tepat guna penjernih air yang dimaksud diatas adalah teknologi yang sederhana, murah, mudah dan dapat berfungsi dengan baik. Dengan teknologi yang tepat guna, air yang tadinya kotor, berbau, menimbulkan penyakit dan tercemar, dapat menjadi air yang bisa dimanfaatkan seperti untuk mandi, minum dan keperluan rumah tangga  lainnya.

MENGENAL TANAMAN KELOR

                “Dunia Tak Selebar Daun Kelor”, adalah sepenggal pribahasa yang sering kita dengar dari orang tua kita dahulu. Namun siapa sangka bahwa banyak dari kita yang tidak tahu tentang tanaman kelor tersebut. Tanaman Kelor (Moringa Oleifera) ternyata tersebar di berbagai belahan dunia yakni di Afrika, Amerika Latin, untuk Asia di anak benua India dan kawasan Asia Tenggara. Menurut sejarahnya, tanaman kelor atau marongghi (Moringa oleifera), berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke Benua Afrika dan Asia.

                Tanaman kelor sendiri merupakan perdu dengan tinggi bisa sampai 10 meter, berbatang lunak dan rapuh dengan daun sebesar ujung jari, berbentuk bulat telur dan tersusun majemuk. Tanaman Kelor tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun dengan warna bunga putih kekuning-kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau, buah kelor berwarna hijau dan keras yang disebut juga klentang (jawa) keluar sepanjang tahun dengan bentuk segitiga memanjang dengan panjang bisa sampai 120 cm, getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (jawa).  

Gambar 1. Tanaman Kelor

                Budidaya tanaman Moringa oleifera atau kelor sangat mudah, karena memerlukan pemeliharaan yang sangat minimal, jarang terserang hama dan dapat tahan pada musim kering yang sangat panjang. Di lingkungan pedesaan, penanaman kelor yang paling umum cukup dengan cara setekan batang tua atau cukup tua, yang langsung ditancapkan ke dalam tanah, apakah sebagai batas tanah, pagar hidup ataupun batang perambat. Walau semaian biji tua dapat dijadikan bibit, namun umumnya jarang dipergunakan.

SEJUTA MANFAATNYA

            Menurut ungkapan Peneliti Michael Lea ahli dari institusi riset Clearing House yang berbasis di Kanada yang melaksanakan penelitian di atas bahkan menyebutkan pohon Moringa Oleifera pantas dijuluki sebagai pohon yang paling berguna di dunia, berhubung multi kegunaan yang bisa didapatkan yakni dari daun dan bunga yang dapat dimakan, daun yang juga dapat dijadikan pupuk, olahan bijinya untuk minyak sayur dan minyak pelita, dan yang terpenting yakni yang berkaitan dengan riset penelitian yakni bubuk bijinya sebagai media pemurnian air : …to purify drinking water at virtually no cost.

            Daun dan buah kelor yang masih muda biasa disayur di Bali, sayur kelor ini sangat sering dijumpai terutama di lingkungan pedesaan, semenjak jaman dahulu tanaman kelor ini tidak saja dijadikan sebagai sayur, melainkan juga sebagai tanaman obat.  Di Indonesia, khususnya di lingkungan perkampungan dan pedesaan, tanaman kelor baru sampai menjadi tanaman pagar hidup, batas tanah ataupun penjalar tanaman lain, akan tetapi manfaat dari daun dan, bunga serta buah mudanya sebagai sayuran, sudah sejak lama digunakan.

                Sebagai tanaman yang berkhasiat obat, bagian tanaman kelor mulai dari akar, batang, daun, dan bijinya, khasiatnya sudah dikenal sejak dahulu. Seperti akarnya, campuran bersama kulit akar pepaya kemudian digiling-dihancurkan, banyak digunakan untuk obat luar (balur) penyakit beri-beri dan sebangsanya. Daunnya ditambah dengan kapur sirih, juga merupakan obat kulit seperti kurap dengan cara digosokkan.

                Sedangkan sebagai obat dalam, air rebusan akarnya ampuh untuk obat rematik, epilepsi, antiskorbut, diuretikum, sampai ke obat gonorrhoea. Bahkan, biji tua kelor bersama dengan kulit jeruk dan buah pala, akan dapat menjadi “spiritus moringae compositus” yang digunakan sebagai stimulans, stomachikum, carminativum sampai diuretikum. Disamping itu, manfaat lain dari batang bersama daun kelor, umumnya digunakan sebagai “alat” untuk melumerkan atau menon-aktifkan “kekuatan magis” seseorang, yaitu dengan cara disapu-sapukan ke bagian muka ataupun dijadikan “alat tidur”, misal seseorang yang tahan terhadap pukulan, bacokan, bahkan tidak mempan oleh terjangan peluru, maka dengan cara disapu-sapukan ke bagian tubuhnya, ataupun dijadikan alas tidurnya, atau ada pula air tanaman kelor disiramkan ke seluruh tubuhnya, maka kekuatan magis tubuhnya akan lumer atau hilang.        

BIJI KELOR UNTUK PENJERNIHAN AIR

                Air sungai atau air sumur gali yang digunakan kadang berwarna coklat akibat dari campuran tanah atau lumpur. Misalnya saat musim hujan, air sungai maupun air sumur gali akan sangat kotor, bahkan mungkin juga mengandung kuman yang dapat menyebabkan penyakit. Air sungai yang tercemar oleh limbah industri dapat mengandung unsur-unsur logam seperti besi (Fe) dll. Air yang tercampur lumpur perlu diendapkan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi dan perlu ada tindakan untuk menghilangkan bahan-bahan pencemar atau logam yang berbahaya.

                Pusat-pusat pengolahan air perkotaan atau municipal water treatment  dengan skala besar menjernihkan air dengan cara menambahkan senyawa kimia penggumpal (coagulants) ke dalam air kotor yang akan diolah. Dengan cara tersebut, partikel-partikel yang berada di dalam air akan menjadi suatu gumpalan yang lebih besar lalu mengendap. Baru air yang di bagian atas yang bersih dipisahkan lalu digunakan untuk keperluan sehari-hari.  Namun demikian, zat kimia penggumpal yang baik ternyata tidak mudah didapatkan di berbagai daerah terpencil. Jikapun ada, pasti harganya tidak akan terjangkau oleh masyarakat setempat. Misalnya adalah Tawas (Alumunium sulfat), yang sangat baik untuk menjernihkan air akan tetapi tidak dapat ditemukan di seluruh daerah Indonesia terutama di daerah terpencil yang tidak terjangkau.

                Gambar 2. Biji Kelor (Moringa oleifera)

                Salah satu alternatif yang tersedia secara lokal adalah penggunaan koagulan alami dari tanaman yang baragkali dapat diperoleh di sekitar kita. Penelitian dari The Environmental Engineering Group di Universitas Leicester, Inggris, telah lama mempelajari potensi penggunaan berbagai koagulan alami dalam proses pengolahan air skala kecil, menengah dan besar. Penelitian mereka dipusatkan terhadap potensi koagulan dari tepung biji tanaman Moringa oleifera. Tanaman tersebut banyak tumbuh di India bagian Utara, tetapi sekarang sudah menyebar ke seluruh kawasan tropis, termasuk Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut dikenal sebagai tanaman kelor daun yang kecil-kecil. 

                Oleh karena itu, Sejak tahun 1980-an oleh Jurusan Teknik Lingkungan ITB, biji kelor digunakan untuk penjernihan air permukaan (air kolam, air sungai, air danau sampai ke air sungai) sebagai pengendap (koagulans) dengan hasil yang memuaskan. Saat itu fokus penelitian ditujukan kepada program pengadaan air jernih untuk para pemukim di kawasan pantai atau pesisir, khususnya di kawasan transmigrasi yang mengandalkan air payau atau gambut berwarna kecoklatan sebagai sumber air minum.

CARA PENJERNIHAN AIR DENGAN BIJI KELOR

                Berkaitan dengan upaya penjernihan air, langkah pertama yang dilakukan adalah biji kelor dibiarkan sampai matang atau tua di pohon dan baru dipanen setelah kering. Sayap bijinya yang ringan serta kulit bijinya menjadi mudah dipisahkan sehingga meninggalkan biji yang putih. Bila terlalu kering di pohon, polong biji akan pecah dan bijinya akan melayang “terbang” ke mana-mana. Biji yang tak berkulit tersebut kemudian dihancurkan dan ditumbuk sampai halus sehingga dapat dihasilkan bubuk biji Moringa. Jumlah bubuk biji Moringa atau kelor yang diperlukan untuk pembersihan air bagi keperluan rumah tangga atau lainnya sangat tergantung pada seberapa jauh kotoran yang terdapat di dalam air tersebut.

                Untuk menjernihkan air sebanyak 20 liter ( 1 jerigen), kira-kira diperlukan jumlah bubuk biji kelor sebanyak 2 gram atau kira-kira 2 sendok teh (5 ml). Kemudian tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji kelor tersebut sehingga menjadi bentuk pasta. Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih dan tambahkan ke dalamnya satu cup (200ml) lagi air bersih, lalu kocok selama lima menit hingga tercampur sempurna. Dengan cara tersebut, maka terjadilah proses aktivitasi senyawa kimia yang terdapat bubuk biji kelor.

                Langkah berikutnya, saringlah larutan tersebut melalui kasin kasa dan filtratnya dimasukkan ke dalam air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya untuk dijernihkan, dan kemudian diaduk secara perlahan-lahan selama 10 – 15 menit. Selama pengadukan, butiran biji kelor yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air berserta mikroba dan kuman-kuman penyakit yang terdapat didalamnya sehingga membentuk gumpalan yang lebih besar yang akan mudah tenggalam. Mengendap ke dasar air. Setelah satu jam, air bersihnya dapat diisap keluar untuk keperluan rumah tangga, dll.

Gambar 3. Tahapan Penjernihan Air Dengan

 Biji Kelor

 

                Proses penjernihan air tersebut menurut hasil penelitian yang telah dilaporkan mampu, mengurangi bakteri secara luar biasa, yaitu sebanyak 90 – 99% yang melekat pada partikel-partikel padat, sekaligus menjernihkan air, relatif aman (untuk kondisi  serba keterbatasan) serta dapat digunakaan sebagai air minum masyarakat setempat.    Kandungan senyawa yang terdapat pada serbuk biji kelor memiliki sifat antimikroba, khususnya terhadap bakteri sehingga kalaupun di dalam air terdapat bakteri Coli (salah satu yang disyaratkan tidak terdapat di dalam air minum), akan tereduksi atau mati. Selain itu, menurut perhitungan yang sudah diuji coba oleh Tim Ahli dari UNDP, maka kebutuhan biji kelor untuk pengolahan air minum di kawasan pantai atau rawa, cukup 2-3 pohon dewasa selama setahun dengan keluarga sebanyak 6-8 orang, dengan perhitungan kebutuhan air sekitar 20 liter/hari/ jiwa.

                Namun demikian, beberapa mikroba patogen masih ada peluang tetap berada di dalam air tersebut yang mungkin belum sempat terendapkan khususnya bila air awalnya telah tercemar berat. Idealnya bagi kebutuhan air minum yang pantas, pemurnian lebih lanjut masih harus dilakukan, baik dengan cara memasak atau dengan penyaringan dengan cara filtrasi pasir yang sederhana.

 

PENUTUP

                Menilai hasil diatas, ternyata tanaman kelor terbukti memiliki banyak manfaat dan potensi yang sangat baik untuk dibudidayakan. Jika budidaya tanaman kelor benar-benar diperhatikan, serta pemanfaatannya dimaksimalkan, akan mampu mendongkrak nilai ekonomis tanaman kelor itu sendiri, yang mana sekaligus akan berdampak langsung dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat serta terjaganya kelestarian sumberdaya air bersih.

                Mengutip dari pepatah lama “Tak Kenal Maka Tak Sayang” mudah-mudahan dengan adanya tulisan ini kita semua menjadi cinta dan tergerak untuk melestarikan tanaman kelor disekitar kita. At least but not the last “Dunia Tak Selebar Daun Kelor”, Tak ada tawas, maka biji kelor pun bisa kita gunakan sebagai penjernih air. Salam Penyuluh Kehutanan..!!!

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

HASIL UJI SERTIFIKASI SKKNI PENYULUH KEHUTANAN

HASIL PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI SERTIFIKASI PENYULUH KEHUTANAN

TAHUN 2011

 

 

 

 

 

 

Oleh : Firmansyah, S.Hut

Penyuluh Kehutanan Ahli

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan

                                   BP2SDMK

K

egiatan penyuluhan kehutanan pada dasarnya adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada masyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal dalam mengelola sumberdaya hutan untuk meningkatkan kesejahteraannya dan keluarganya, dengan senantiasa memperhatikan segala aspek kelestariannya. Melalui kegiatan penyuluhan kehutanan sangat diharapkan peran aktif dari masyarakat dalam pembangunan kehutanan dapat terus ditingkatkan, karena peran aktif dari masyarakat akan sangat mempengaruhi keberhasilan pembangunan kehutanan dalam mewujudkan visi kita, yaitu “Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera”.

Berdasarkan hal tersebut, tidak dapat dibantah lagi bahwa penyuluh kehutanan memiliki fungsi yang sangat strategis dan merupakan ujung tombak dalam pembangunan kehutanan. Untuk itu diperlukan penyuluh-penyuluh kehutanan yang profesional dan berkompeten di bidangnya. Berkaitan dengan tersebut, guna meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para penyuluh kehutanan, maka Kementerian Kehutanan melalui cq. Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan BP2SDMK pada akhir tahun 2011 kemarin telah melaksanakan sertifikasi penyuluh kehutanan.

Hal ini sejalan dengan amanat UU Nomor 16 Tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yaitu pasal 21 ayat 1  bahwa Pemerintah (Pusat) dan Pemerintah Daerah meningkatkan kompetensi penyuluh PNS melalui pendidikan dan pelatihan. Selanjutnya pada ayat 3 disebutkan bahwa peningkatan kompetensi penyuluh berpedoman pada standar, akreditasi, serta pola pendidikan dan pelatihan penyuluh yang diatur dengan peraturan menteri. Kemudian dalam penjelasan pasal 22 ayat 1 disebutkan bahwa “Penyuluh PNS memperoleh kesetaraan persyaratan jenjang jabatan, tunjangan jabatan fungsional, tunjangan profesi dan usia pensiun”.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa Penyuluh Kehutanan PNS disamping sebagai jabatan fungsional juga merupakan suatu bidang “Profesi” sehingga sertifikasi profesi penyuluh kehutanan PNS menjadi hal mutlak dalam upaya meningkatkan kompetensi penyuluh serta sebagai bentuk pengakuan secara formal terhadap kemampuan penyuluh kehutanan PNS tersebut.

RENCANA DAN TARGET PELAKSANAAN

Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan telah merencanakan bahwa penyuluh yang akan disertifikasi pada tahun 2011 hanya Penyuluh Kehutanan level fasilitator (terampil semua jenjang) saja. Hal ini dikarenakan belum rampungnya Materi Uji Kompetensi (MUK) untuk level Penyuluh Kehutanan Supervisor (tingkat ahli pertama dan muda) dan level Penyuluh Kehutanan Advisor (tingkat ahli madya). Direncanakan Materi Uji Kompetensi (MUK) untuk penyuluh level supervisor dan advisor akan disusun pada tahun 2012.

Sejalan dengan rencana tersebut, Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan telah melaksanakan uji kompetensi penyuluh kehutanan pada bulan November dan Desember 2011. Sebanyak 6 (enam) provinsi dari seluruh Indonesia telah ditetapkan untuk dilakukan uji kompetensi sertifikasi penyuluh kehutanan yaitu Provinsi Lampung sebanyak 20 orang, Jawa Barat sebanyak 40 orang, Banten sebanyak 20 orang, Jawa Tengah sebanyak 60 orang, D.I.Yogyakarta sebanyak 20 orang dan terakhir Jawa Timur sebanyak 40 orang penyuluh. Targetnya adalah sebanyak 200 orang penyuluh kehutanan PNS dapat tersertifikasi pada tahun 2011, sedangkan untuk tahun 2012 ditargetkan sebanyak 300 orang penyuluh dapat tersertifikasi.

Perihal Tempat Uji Kompetensi (TUK) sudah direncanakan di 4 (empat) tempat/ lokasi berbeda yaitu 1) Bakorluh Provinsi Lampung TUK penyuluh provinsi Lampung, 2) Bakorluh Provinsi Jawa Tengah untuk TUK Provinsi Jawa Tengah dan DIY, 3) Kantor Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur untuk TUK penyuluh dari Provinsi Jawa Timur, dan 4) BDK Kadipaten untuk TUK penyuluh dari Provinsi Jawa Barat dan Banten. Perlu diketahui, bahwa sertifikasi yang telah direncanakan tersebut dilakukan dengan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Penyuluhan Kehutanan yang telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.137/MEN/V/2011. Tabel dibawah ini menyajikan secara lengkap rencana pelaksanaan sertifikasi penyuluh kehutanan level fasilitator tahun 2011.

No Provinsi Jadwal Uji Kompetensi Jumlah Peserta

Tempat Uji Kompetensi

1. Lampung 16 – 19 Nov 20 org

Bakorluh Prov. Lampung

2. Jawa Tengah 23 – 26 Nov 20 org

 Bakorluh Prov. Jawa Tengah

    26 – 28 Nov 20 org  
    28 Nov–1 Des 20 org  
3. DIY 23 – 26 Nov 20 org  
4. Jawa Timur 1 – 4 Des 20 org

Dinas Kehutanan Prov.Jawa Timur

    5 – 8 Des 20 org  
5. Jawa Barat 5 – 8 Des 20 org BDK Kadipaten
    8 – 11 Des 20 org  
6. Banten 5 – 8 Des 20 org  

 

PELAKSANAAN UJI KOMPETENSI

Pelaksanaan uji kompetensi Penyuluh Kehutanan Fasilitator ini dibebankan pada DIPA Satker Pusat Pengembangan Penyuluhan Kehutanan Tahun Anggaran 2011 dan dilaksanakan secara jujur, transparan, non-diskriminasi karena  dilakukan oleh lembaga independen resmi yang telah di akui kredibilitasnya yaitu Lembaga Sertifikasi Profesi Kehutanan Indonesia (LSP-HI) dan menggunakan standar kompetensi kerja yang telah ditetapkan.

Unit kompetensi yang diujikan adalah yang tercantum dalam SKKNI Bidang Penyuluhan Kehutanan mencakup 3 unit kompetensi umum, 8 unit kompetensi inti dan 1 unit kompetensi pilihan yang dipilih oleh asesi/peserta uji kompetensi dari total 14 unit kompetensi pilihan, sehingga materi uji yang diujikan seluruhnya berjumlah 12 unit kompetensi. Setiap asesor (penguji) menguji maksimal 5 orang peserta dalam satu 1 term uji kompetensi, sehingga masing-masing kelompok uji yang terdiri dari 20 orang didampingi oleh 4 orang asesor (penguji) ditambah 2 orang tenaga administrasi serta 1 orang supervisor dari Pusbangluh guna memastikan pelaksanaan uji kompetensi berjalan dengan lancar dan tertib. Dalam pelaksanaannya kemarin, ada 2 (dua) TUK yang terpaksa dibatalkan dan dipindahkan ke tempat lain yang layak dan memenuhi kriteria yaitu 1)  TUK Bakorluh Jawa Tengah diganti dengan TUK Balai Pelatihan Koperasi di Srondol, Jawa Tengah dikarenakan pada saat itu Bakorluh Jawa Tengah sedang dilakukan renovasi, 2) TUK Dinas Kehutanan Jawa Timur diganti dengan dengan TUK Wisma PGRI, Surabaya Jawa Timur.

Seiring dengan berjalannya waktu pelaksanaan uji kompetensi, terjadi penambahan jumlah asesi (peserta uji) yaitu sebanyak 20 orang yang terdiri dari 5 orang asesi dari Jawa Barat, 5 orang dari asesi dari Jawa Tengah, dan terakhir 5 orang asesi dari provinsi Lampung. Penambahan jumlah asesi tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain : 1) Ada asesi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai peserta uji kompetensi level fasilitator, 2) Ada asesi yang mengundurkan diri dengan berbagai sebab diantaranya yaitu karena jatuh sakit menjelang hari pelaksanaan uji kompetensi, masih dalam proses recovery dari sakitnya, diminta membantu menyelesaikan kegiatan struktural di Instansi pembinanya maupun karena ada anggota keluarganya yang sakit. Bahkan ada yang mengundurkan diri tanpa ada alasan yang jelas.

Proses uji kompetensi tersebut dilaksanakan selama 4 (empat) hari dengan rincian sebagai berikut :

  1. Hari Pertama (Pra Asesmen)

Pembukaan oleh Kepala TUK, dilanjutkan dengan pengarahan dari Pusbangluh serta penjelasan singkat dari perwakilan LSPHI. Setelah itu dilakukan pembagian peserta dalam kelompok uji yang tiap kelompoknya terdiri dari 5 orang asesi. Tahapan selanjutnya adalah Pra Uji Kompetensi yaitu verifikasi tujuan asesmen dengan memeriksa Aplikasi Permohonan (APL-1), Asesmen Mandiri (APL-02) dan memeriksa kesesuaian bukti-bukti pendukung termasuk portofolio sebagai persyaratan sertifikasi.

  1. Hari Kedua (Asesmen)

Yaitu pelaksanaan uji kompetensi melalui uji tulis dan uji lisan. Uji tulis dengan soal multiple choice, jawaban singkat dan jawaban uraian. Sedangkan uji lisan untuk menggali pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki asesi.

  1. Hari Ketiga (Asesmen dan Penyampaian Hasil)

Uji selanjutya adalah uji demonstrasi. Uji ini lebih dikhususkan untuk memperoleh bukti kompetensi asesi terhadap unit kompetensi khusus (pilihan). Hal ini untuk mengetahui pengetahuan, keterampilan dan sikap asesi terutama dalam kegiatan pendampingan baik ditinjau dari segi teknis maupun metode pendampingannya. Setelah itu, asesor kemudian menyampaikan secara langsung hasil rekomendasi atau penilaiannya kepada asesi apakah sudah kompeten atau belum kompeten. Kepada peserta juga disampaikan mekanisme banding asesmen serta umpan balik dan kaji ulang dari dan untuk asesor.

  1. Hari Keempat (Pemberkasan)

Memastikan bahwa dokumen sertifikasi telah lengkap.

 

REKAPITULASI HASIL UJI KOMPETENSI

Hasil uji kompetensi yang dilakukan selama ± 28 hari, mulai tanggal 16 November s/d 13 Desember 2011 diperoleh data dari 200 asesi (penyuluh kehutanan) yang tersertifikasi,  189 orang asesi dinyatakan kompeten sedangkan sisanya dinyatakan belum kompeten. Untuk rincian asesi yang direkomendasikan oleh asesor sudah kompeten atau lulus uji kompetensi yaitu 27 orang asesi dari Provinsi Lampung, 57 orang asesi dari Provinsi Jawa Tengah, 17 orang asesi dari DIY, 37 asesi dari Provinsi Jawa Timur, 40 orang asesi dari provinsi Jawa Barat serta 11 orang asesi dari provinsi Banten.

 

EVALUASI PELAKSANAAN DAN SARAN 

Hasil evaluasi pelaksanaan uji kompetensi penyuluh kehutanan level fasilitator diantaranya sebagai berikut :

  • Hampir semua asesi usianya  > 50 thn. Untuk kedepannya diharapkan agar asesi yang diajukan oleh daerah sebagian ada asesi yang masih muda agar tercipta regenerasi penyuluh yang kompeten.
  • Masih ada peserta uji yang belum memahami formulir APL-01 dan APL-02 sehingga kedepannya diperlukan sosialisasi dan asistensi yang lebih intensif.
  • Sebagian asesi  belum membaca secara lengkap isi dokumen SKKNI sesuai dengan tupoksinya sebagai fasilitator. Untuk itu asesi diharapkan telah membaca isi dokumen SKKNI sesuai dengan tupoksinya sebelum mengikuti uji sertifikasi.
  • Sebagian peserta uji datang dengan portofolio seadanya. Kedepannya diharapkan agar peserta uji (asesi) lebih mempersiapkan diri lebih baik lagi.
  • dll

PENUTUP

                Terlepas dari hitam dan putihnya kenyataan dilapangan, semangat sertifikasi tersebut harus direspon positif dan didukung oleh semua pihak sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas penyuluh kehutanan dimasa yang akan datang. Bravo Penyuluh Kehutanan!!!

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar